Media Kampung, Banyuwangi – Juhairiyah, yang akrab disapa Bu Hari, adalah seorang pedagang yang telah bertahan dalam usaha menjual dawet, jenang, dan kacang hijau di Pasar Glenmore selama hampir sepuluh tahun. Memulai aktivitasnya setiap hari sejak pukul 05.30 hingga 13.00 WIB, Bu Hari terus berjualan meskipun harga bahan pokok dan kebutuhan sehari-hari mengalami kenaikan yang signifikan.
Bu Hari mengawali usaha ini ketika anaknya masih duduk di kelas tiga sekolah dasar. “Sudah lama, Mbak. Waktu anak saya masih kelas tiga SD. Belum sampai sepuluh tahun,” ungkapnya saat ditemui pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Dalam berjualan, ia menyediakan makanan tradisional yang menjadi favorit, termasuk dawet dan jenang, yang harganya kini telah berubah mengikuti kondisi pasar. Dawet, yang sebelumnya dijual seharga Rp3.000, kini dijual seharga Rp5.000.
Kondisi pasar yang tidak selalu ramai menjadi tantangan tersendiri bagi Bu Hari. Ia mencatat bahwa hari Minggu biasanya menjadi waktu paling ramai bagi penjualan, tetapi pada hari-hari lainnya, jumlah pembeli bisa bervariasi. Dari hasil berjualan, omzet yang diperoleh berkisar antara Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per hari. “Kadang Rp250 ribu, kadang ya sampai Rp300 ribu,” katanya.
Kendati banyak tantangan yang dihadapi, Bu Hari tetap berkomitmen untuk menjalankan usaha ini sebagai sumber penghasilan bagi keluarganya. Ia hanya mengambil libur ketika harus bepergian ke Malang, yang bahkan bisa berlangsung hingga dua minggu atau dua bulan. Dalam menjalankan usahanya, Bu Hari mengaku belum pernah menerima bantuan dari pemerintah. “Ya, aslinya pengen, Mbak. Namanya orang dibantu kan senang. Selama ini belum pernah,” ujarnya.
Meskipun kondisi ekonomi yang sulit dan harga bahan yang terus meningkat, semangat Bu Hari untuk berjualan tetap tak tergoyahkan. Baginya, usaha menjual dawet, jenang, dan kacang hijau bukan hanya sekadar pekerjaan, tetapi juga bagian dari kehidupannya dan cara untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.














