Media Kampung, Banyuwangi – Juhairiyah, atau lebih dikenal sebagai Bu Hari, telah menjalankan usahanya menjual dawet, jenang, dan kacang hijau di Pasar Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, selama hampir sepuluh tahun. Setiap hari, ia membuka dagangannya dari pukul 05.30 hingga 13.00 WIB, meskipun harga bahan makanan terus mengalami kenaikan.

Bu Hari memulai usaha ini ketika anaknya masih duduk di kelas tiga sekolah dasar. Kini, dengan pengalaman bertahun-tahun, ia tetap setia menjalankan bisnisnya, kecuali saat harus pergi ke Malang. “Sudah lama, Mbak. Waktu anak saya masih kelas tiga SD. Belum sampai sepuluh tahun,” tuturnya saat ditemui di pasar.

Di gerobaknya, Bu Hari menyediakan berbagai makanan tradisional dengan harga yang bervariasi. Contohnya, harga dawet yang semula Rp3.000 kini naik menjadi Rp5.000. Dalam menjalankan usahanya, ia menyebutkan bahwa kondisi pasar tidak selalu ramai, meski hari Minggu biasanya lebih banyak pengunjung. Omzet yang ia peroleh berkisar antara Rp250 ribu hingga Rp300 ribu setiap hari.

Bu Hari tetap berjualan setiap hari karena usaha ini menjadi sumber penghasilan utama untuk keluarganya. Ia hanya mengambil libur ketika bepergian ke Malang, bahkan kadang harus meninggalkan dagangannya selama dua minggu hingga dua bulan. Selama ini, ia menyatakan belum pernah menerima bantuan dari pemerintah, dan berharap ada perhatian yang lebih untuk pedagang kecil seperti dirinya. “Ya, aslinya pengen, Mbak. Namanya orang dibantu kan senang. Selama ini belum pernah,” ungkapnya.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, terutama kenaikan harga bahan, Bu Hari tetap optimis dan berkomitmen untuk melanjutkan usahanya di Pasar Glenmore. Baginya, berjualan dawet, jenang, dan kacang hijau bukan hanya sekadar cara untuk mendapatkan penghasilan, namun juga sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.