Media Kampung – Martalena Manalu, pemilik UMKM Aivah di Balige, Sumatera Utara, berhasil mengolah ikan Red Devil yang merupakan spesies invasif di Danau Toba menjadi kerupuk khas bernama Tayo-Tayo. Inovasi ini bukan hanya menambah nilai ekonomi tetapi juga membantu mengendalikan populasi ikan yang mengancam ekosistem lokal.

UMKM yang berlokasi di Jalan Lumban Sisoding, Pardede Onan ini mulai memproduksi kerupuk dari ikan Red Devil sejak tahun 2023. Produk kerupuk Tayo-Tayo kini sudah dikenal sebagai oleh-oleh khas daerah Danau Toba dan mulai dipasarkan secara luas melalui sistem pre-order serta promosi di media sosial dan komunitas lokal.

Martalena menjelaskan bahwa keberadaan ikan Red Devil selama ini dianggap mengganggu keseimbangan ekosistem Danau Toba karena populasinya yang cepat berkembang dan mengancam ikan asli. Dengan mengolah ikan tersebut menjadi makanan ringan, diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.

“Kami ingin produk ini tidak hanya menjadi camilan khas, tetapi juga sebagai bagian dari upaya memanfaatkan ikan invasif agar memiliki nilai ekonomi yang bermanfaat untuk masyarakat sekitar Danau Toba,” ujar Martalena saat ditemui di Balige, Selasa (19/5/2026).

Produksi kerupuk Tayo-Tayo dari ikan Red Devil saat ini masih terbatas, rata-rata menggunakan sekitar 6 kilogram ikan dalam 3 sampai 4 bulan. Namun, saat ada kegiatan pemerintah atau permintaan oleh-oleh, produksi bisa meningkat hingga 3 kilogram per bulan. Harga ikan Red Devil yang melimpah cukup murah, sekitar Rp6.000 per kilogram, sementara kerupuk Tayo-Tayo dijual Rp15.000 per bungkus isi 50 gram.

Martalena berharap inovasi ini dapat menjadi contoh bagaimana tantangan lingkungan seperti penyebaran ikan invasif dapat diubah menjadi peluang ekonomi kreatif berbasis potensi lokal. Dengan meningkatnya penjualan produk kerupuk ini, diharapkan populasi ikan Red Devil di Danau Toba dapat berkurang sehingga ekosistem di kawasan tersebut dapat lebih terjaga.

UMKM Aivah sebelumnya juga telah memproduksi rempeyek dan ulos sebagai oleh-oleh khas Toba. Melalui dukungan komunitas dan promosi yang konsisten, Martalena optimistis produknya akan semakin dikenal luas dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar Danau Toba.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.