Media Kampung – Wabah hantavirus yang terjadi pada penumpang kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik diidentifikasi sebagai virus Andes, satu jenis hantavirus yang dapat menular antar manusia namun penyebarannya tidak secepat virus pernapasan seperti Covid-19.
Kasus pertama kali dilaporkan pada 2 Mei 2026, ketika klaster penyakit pernapasan berat muncul di antara penumpang kapal. Hingga tanggal 10 Mei, total delapan kasus telah tercatat, lima di antaranya telah dikonfirmasi secara laboratorium sebagai infeksi hantavirus jenis Andes. Sayangnya, tiga korban dilaporkan meninggal dunia akibat komplikasi penyakit ini.
Virus Andes termasuk dalam keluarga hantavirus yang umumnya menular melalui kontak dengan hewan pengerat seperti tikus. Penularan biasanya terjadi ketika manusia terpapar urine, kotoran, atau air liur hewan yang terinfeksi dan menghirup partikel virus di lingkungan yang terkontaminasi. Namun, berbeda dengan virus pernapasan lain, penularan antar manusia virus Andes membutuhkan kontak erat dan berkepanjangan.
Dr. Manuel Schibler, Kepala Laboratorium Virologi di Geneva University Hospitals, menjelaskan bahwa virus Andes adalah satu-satunya hantavirus yang penularan antar manusia telah terdokumentasi. Ia menambahkan, “Virus ini tidak menular melalui saluran pernapasan secepat Covid atau flu. Jadi itu merupakan informasi yang cukup melegakan.”
European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) menyatakan langkah isolasi ketat dan pelacakan kontak menjadi kunci utama untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. Penumpang tanpa gejala telah dipulangkan dengan transportasi khusus, sementara yang menunjukkan gejala menjalani evaluasi medis lebih lanjut di Tenerife, Kepulauan Canary, di mana kapal MV Hondius kini berlabuh untuk proses pemeriksaan, evakuasi, dan disinfeksi.
Gejala awal infeksi hantavirus mirip dengan flu, seperti demam, nyeri otot, dan kelelahan. Pada kasus yang lebih parah, infeksi dapat berkembang menjadi hantavirus pulmonary syndrome yang menyerang paru-paru dan berpotensi fatal. Hingga saat ini, belum ada obat khusus untuk hantavirus, sehingga perawatan difokuskan pada penanganan gejala dan dukungan medis intensif.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan pentingnya deteksi dini dan penanganan cepat untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien. Kasus di kapal MV Hondius kini menjadi perhatian internasional dengan penanganan lintas negara, termasuk evakuasi penumpang dan pengawasan ketat untuk mencegah wabah lebih luas.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan