Media Kampung – 16 April 2026 | Kasus gagal ginjal pada anak muda meningkat tajam, sehingga banyak yang harus menjalani cuci darah, kata dokter spesialis nefrologi Dr. Andi Wijaya. Artikel ini mengulas penyebab utama dan langkah pencegahan yang dapat membantu menjaga kesehatan ginjal pada generasi muda.
Dokter menilai hipertensi, diabetes tipe 2, obesitas, serta penggunaan narkotika dan obat antiinflamasi non‑steroid (OAINS) sebagai faktor pemicu utama pada usia muda. Konsumsi garam berlebih dan kurangnya aktivitas fisik juga mempercepat kerusakan nefron.
“Ginjal tidak memberi sinyal sampai kerusakan mencapai tahap kritis,” ujar Dr. Andi dalam wawancara di RSUP Dr. Soetomo, Surabaya. Ia menekankan pentingnya pemeriksaan rutin untuk mendeteksi gangguan fungsi ginjal secara dini.
Gaya hidup tidak sehat, seperti pola makan tinggi protein hewani, minuman bersoda, dan kurang minum air putih, meningkatkan beban kerja ginjal. Selain itu, kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol secara berlebihan memperburuk sirkulasi darah ke ginjal.
Skrining ginjal dapat dilakukan melalui pemeriksaan kreatinin serum, laju filtrasi glomerulus (eGFR), serta urin mikroalbumin, yang dapat diakses di puskesmas secara gratis. Dokter menyarankan minimal sekali setahun bagi individu berusia di atas 20 tahun dengan faktor risiko.
Jika hasil eGFR berada di bawah 60 mL/menit/1,73 m², pasien disarankan melakukan evaluasi lanjutan, termasuk USG ginjal dan konsultasi nefrologi. Deteksi proteinuria pada urin juga menjadi indikator penting kerusakan glomerulus.
Pola makan seimbang dengan sayuran, buah, dan biji‑bijian, serta pembatasan garam tidak melebihi 5 gram per hari, dapat melindungi fungsi ginjal. Olahraga ringan 150 menit per minggu membantu mengontrol tekanan darah dan gula darah, dua penyebab utama gagal ginjal.
Meskipun sering asymptomatic, tanda‑tanda awal meliputi pembengkakan pada kaki, kelelahan, dan perubahan warna urin yang dapat diwaspadai. Jika mengalami gejala tersebut, segera lakukan pemeriksaan darah dan urin untuk menyingkirkan gangguan ginjal.
Pemerintah daerah Jawa Timur meluncurkan program “Ginjal Sehat” yang menyediakan edukasi, skrining gratis, dan rujukan ke rumah sakit bagi remaja berisiko tinggi. Kerjasama dengan sekolah dan organisasi pemuda diharapkan meningkatkan kesadaran dan mengurangi angka cuci darah pada generasi mendatang.
Per akhir Maret 2024, jumlah pasien dialisis usia muda di Surabaya menunjukkan penurunan 5 % setelah intensifikasi program skrining, menandakan efek positif kebijakan kesehatan. Namun, dokter memperingatkan bahwa upaya pencegahan harus terus dipertahankan untuk menurunkan beban penyakit kronis pada populasi muda.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan