Media Kampung – 12 April 2026 | Posisi jongkok yang dianjurkan saat buang hajat dapat memperlancar proses pencernaan dan mengurangi risiko sembelit secara alami. Menurut panduan syariah yang dipublikasikan oleh Islam.nu pada April 2024, posisi tersebut didasarkan pada kajian anatomi rektum dan praktik tradisional umat Islam.

Dalam posisi jongkok, sudut rektum terbuka lebih lebar karena otot puborektalis terlepas, sehingga tekanan intra‑abdominal dapat menurunkan hambatan keluarnya tinja. Penelitian medis menunjukkan bahwa sudut anorektal dapat mencapai 15‑20 derajat lebih besar dibandingkan posisi duduk, memudahkan pengeluaran kotoran tanpa menimbulkan tekanan berlebih pada pembuluh darah.

Studi yang dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada pada tahun 2022 mengukur waktu buang air besar pada 120 responden dan menemukan rata‑rata durasi menjadi setengah dari waktu saat duduk. Hasil ini mengindikasikan efisiensi proses eliminasi yang dapat menurunkan risiko gangguan pencernaan kronis.

Selain manfaat fisiologis, posisi jongkok juga dianggap lebih bersih karena mengurangi kontak tinja dengan permukaan toilet. Praktik ini selaras dengan prinsip kebersihan dalam ajaran Islam yang menekankan pemisahan antara najis dan bersih.

Beberapa fasilitas umum di kota Surabaya dan Malang mulai memasang toilet dengan desain jongkok setelah survei menunjukkan peningkatan kepuasan pengguna. Pemerintah daerah setempat menyatakan dukungan terhadap upaya peningkatan kesehatan masyarakat melalui infrastruktur ramah kesehatan.

Para ahli gizi menekankan bahwa posisi jongkok sebaiknya dipadukan dengan asupan serat yang cukup, hidrasi optimal, dan aktivitas fisik teratur. Kombinasi ini dapat memperkuat efek positif pada transit usus dan mencegah konstipasi.

Dalam konteks ramadhan, posisi jongkok menjadi rekomendasi khusus karena puasa dapat mempengaruhi frekuensi buang air besar. Umat yang mengikuti anjuran ini melaporkan kenyamanan lebih saat sahur dan berbuka.

Ulama Indonesia, seperti Prof. Dr. H. Ahmad Yunus, menegaskan bahwa anjuran posisi jongkok tidak bertentangan dengan fiqh, melainkan merupakan sunnah yang dapat diadaptasi sesuai kondisi modern. Ia menambahkan bahwa niat ikhlas dalam menjaga kesehatan memperkuat nilai ibadah.

Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat penurunan angka kasus sembelit sebesar 8% pada tahun 2023 di wilayah yang mengimplementasikan program edukasi posisi jongkok. Ini menunjukkan dampak kebijakan kesehatan publik yang berbasis bukti.

Untuk mempraktikkan posisi jongkok secara aman di rumah, disarankan menggunakan toilet riser atau sandaran khusus yang menyesuaikan tinggi kaki. Alat bantu ini membantu mengurangi ketegangan pada lutut bagi pengguna yang memiliki mobilitas terbatas.

Penggunaan posisi jongkok tidak hanya terbatas pada orang dewasa; anak-anak juga dapat dilatih sejak dini untuk mengembangkan kebiasaan buang hajat yang sehat. Sekolah-sekolah di Jawa Timur mulai memasukkan modul kebiasaan ini dalam kurikulum kesehatan dasar.

Dengan semakin banyak bukti ilmiah dan dukungan keagamaan, posisi jongkok yang dianjurkan saat buang hajat diproyeksikan menjadi standar praktik kesehatan di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Pemerintah dan lembaga keagamaan diharapkan terus berkolaborasi untuk menyebarluaskan edukasi ini secara luas.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.