Media Kampung – 09 April 2026 | Biro Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru yang menunjukkan penurunan konsumsi gula per kapita di Indonesia pada tahun 2025. Penurunan ini dianggap sebagai indikator perubahan pola hidup masyarakat menuju pilihan yang lebih sehat.

Penurunan tersebut tidak bersifat merata, dengan provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta mencatat penurunan terbesar, sementara beberapa daerah pedesaan masih mempertahankan tingkat konsumsi yang relatif stabil. Data ini diolah menggunakan metodologi standar BPS yang meliputi sampel rumah tangga representatif secara nasional.

BPS menyatakan bahwa penurunan konsumsi gula sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan risiko kesehatan seperti diabetes dan obesitas. Pemerintah telah meluncurkan kampanye gizi seimbang sejak 2019, yang kini mulai menunjukkan dampak pada perilaku konsumen.

Sebuah studi independen yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan mendukung temuan BPS, dengan laporan bahwa prevalensi diabetes tipe 2 mengalami penurunan ringan pada kelompok usia produktif. Penurunan gula dalam diet dianggap berkontribusi pada tren tersebut.

Konsumen juga mengubah pola belanja, beralih dari produk gula olahan ke alternatif alami seperti madu atau pemanis rendah kalori. Peritel besar melaporkan peningkatan penjualan produk tersebut selama tiga tahun terakhir.

Baca juga:

Pak Agus Santoso, kepala seksi statistik konsumsi pangan BPS, menjelaskan bahwa data tersebut dihasilkan dari pencatatan pembelian bulanan rumah tangga selama periode survei. “Kami melihat pergeseran yang signifikan dalam preferensi rasa, terutama di kalangan generasi milenial,” ujarnya.

Analis pasar makanan, Rina Widjaja, menilai bahwa perubahan ini membuka peluang bagi produsen makanan ringan untuk mengembangkan varian rendah gula. “Pasar kini menuntut produk yang tidak hanya lezat tetapi juga mendukung kesehatan,” katanya.

Meskipun tren menurun, BPS memperingatkan bahwa konsumsi gula masih berada di atas rekomendasi WHO sebesar 5% total asupan kalori. Oleh karena itu, upaya edukasi tetap diperlukan untuk menurunkan angka lebih jauh.

Pemerintah berencana memperkuat regulasi label nutrisi, termasuk keharusan mencantumkan jumlah gula per porsi pada kemasan. Langkah ini diharapkan memudahkan konsumen membuat pilihan yang lebih informatif.

Data BPS juga menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga untuk gula menurun, sementara alokasi anggaran untuk buah dan sayur meningkat. Ini mencerminkan pergeseran prioritas gizi di tingkat keluarga.

Baca juga:

Organisasi konsumen menyarankan agar program edukasi gizi dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah dasar, sehingga kebiasaan makan sehat terbentuk sejak dini. Inisiatif tersebut sejalan dengan agenda nasional “Indonesia Sehat 2025.”

Sektor industri makanan diharapkan menyesuaikan formula produk untuk memenuhi permintaan pasar yang lebih sadar kesehatan. Beberapa produsen telah menguji resep dengan pengganti gula alami dan mengurangi kandungan gula tambahan.

Penurunan konsumsi gula juga berdampak pada lingkungan, mengurangi kebutuhan produksi tebu yang berpotensi menurunkan emisi karbon. Analisis ekonomi lingkungan menyebutkan bahwa perubahan pola konsumsi dapat memberikan manfaat ganda.

Secara keseluruhan, data BPS menegaskan bahwa masyarakat Indonesia mulai mengadopsi gaya hidup lebih sehat, meski masih ada tantangan untuk mencapai target konsumsi gula yang disarankan. Pemerintah, industri, dan konsumen harus terus berkolaborasi untuk mempercepat tren positif ini.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.

Baca juga: