Media Kampung – 30 Maret 2026 | Seorang dokter internship berusia 26 tahun di RSUD Pagelaran, Cianjur, dinyatakan meninggal pada 26 Maret 2026 akibat komplikasi campak yang menyerang jantung dan otak. Kasus ini menjadi sorotan publik setelah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menuntut penanganan menyeluruh.
Dokter tersebut, Andito Mohammad Wibisono, masuk program internship Agustus 2025‑2026 dan pertama kali menangani pasien campak pada awal Maret. Pada 18 Maret ia mulai merasakan demam, flu, dan batuk, gejala yang kemudian berkembang menjadi ruam dan penurunan kesadaran.
Meskipun telah diberikan izin sakit pada 19‑21 Maret, Andito tetap melanjutkan tugas di unit gawat darurat dan menangani empat pasien suspek campak. Pada 22‑25 Maret kondisi semakin memburuk, sehingga ia dirawat mandiri di rumah sebelum akhirnya dibawa ke RSUD Cimacan pada 25 Maret.
Kementerian Kesehatan melalui Dirjen SDMK, dr. Yuli Farianti, menjelaskan rangkaian kronologi: penurunan kesadaran pada 25 Maret, masuk ICU pada malam itu, dan kematian pada pukul 11.30 WIB keesokan harinya setelah hasil laboratorium 28 Maret mengonfirmasi infeksi campak.
Gubernur Dedi Mulyadi menegaskan perlunya identifikasi sumber dan pola penyebaran virus, serta langkah penanganan komprehensif dalam waktu singkat. Ia menyampaikan, “Kita harus melakukan langkah-langkah penanganan yang menyeluruh hari ini, agar penyakit tidak menyebar lebih luas.”
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, menambahkan bahwa imunisasi tidak mencegah infeksi tetapi dapat meredakan gejala berat. Ia memperingatkan bahwa virus campak dapat menyerang otak, paru‑paru, dan mata, bahkan berpotensi menyebabkan kebutaan.
Data Dinas Kesehatan menunjukkan terdapat sekitar 102 ribu anak di Jawa Barat yang belum menerima imunisasi campak, sehingga pemerintah meluncurkan program kejar imunisasi yang menargetkan wilayah dengan angka cakupan terendah, termasuk kabupaten Tasikmalaya, Garut, dan Cianjur.
Kegawatdaruratan ini menekankan pentingnya perlindungan tenaga kesehatan, terutama mereka yang berada di garis depan. KDM (Kepala Dinas Medis) menilai wafatnya dokter muda sebagai pengabdian tertinggi dan mengingatkan agar fasilitas kesehatan menyediakan perlindungan vaksinasi bagi semua petugas medis.
Provinsi Jawa Barat saat ini mencatat lebih dari 8 ribu kasus campak sejak awal tahun, dengan konsentrasi di beberapa kabupaten yang belum mencapai target imunisasi 95 %. Penyebaran cepat virus menimbulkan kekhawatiran akan potensi KLB (Kejadian Luar Biasa) di wilayah lain.
Pemerintah daerah bersama Kemenkes mengadakan rapat koordinasi untuk memetakan titik fokus penyebaran, memperkuat surveilans, dan menyiapkan tim respons cepat. Upaya ini melibatkan dinas kesehatan kabupaten, puskesmas, serta relawan masyarakat untuk melakukan penyuluhan dan pemeriksaan suhu.
Kemenkes juga mengumumkan revisi kebijakan internship, mewajibkan pengawasan medis ketat bagi peserta yang mengalami gejala penyakit menular, serta melarang penanganan mandiri tanpa supervisi dokter senior. Langkah ini diharapkan mencegah kejadian serupa di masa depan.
Sampai kini, keluarga dokter dan rekan sejawat masih dalam proses berduka, sementara upaya penanggulangan campak terus digencarkan. Pemerintah menegaskan komitmen untuk melindungi tenaga medis dan menurunkan angka penularan agar tragedi serupa tidak terulang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan