LAMPUNG INSIDER – Reaktif HIV/AIDS Bandar Lampung tercatat sebanyak 333 orang dan dinilai masih berpotensi bertambah. Panglima Laskar Muda Lampung (Pangdam) Misrul meyakini angka tersebut belum mencerminkan kondisi riil di lapangan apabila metode screening belum dilakukan secara menyeluruh.
Menurut Misrul, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dan Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung perlu lebih terbuka dalam menjelaskan sumber serta metode pengambilan data screening. Ia menilai, jika pemeriksaan hanya difokuskan di tempat hiburan malam, maka angka temuan tidak akan menggambarkan situasi sebenarnya dan berpotensi terus meningkat.
Ia mendorong Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung melakukan langkah deteksi yang lebih masif dengan mengoptimalkan peran puskesmas. Intervensi anggaran di setiap puskesmas dinilai perlu diarahkan untuk mendukung screening lanjutan dan upaya pencegahan penularan secara luas.
Menurutnya, pemeriksaan HIV tidak cukup dilakukan di lokasi-lokasi tertentu saja. Penyakit tersebut, kata dia, berisiko menular dalam lingkup keluarga apabila tidak terdeteksi sejak dini. Karena itu, screening seharusnya menyasar seluruh lapisan masyarakat agar pencegahan berjalan efektif.
Misrul juga menyoroti alokasi anggaran di salah satu puskesmas di Kota Bandar Lampung. Dari hasil penelaahannya, ia mengaku tidak menemukan pos anggaran khusus untuk screening dan pencegahan HIV/AIDS. Anggaran disebut lebih banyak terserap untuk jasa pelayanan dibandingkan kegiatan langsung ke masyarakat dalam rangka pencegahan penyakit menular.
Pernyataan tersebut disampaikan Misrul pada Minggu (22/02/2026). Ia sekaligus mempertanyakan pernyataan Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Temenggung, yang sebelumnya menyebut upaya pencegahan telah dilakukan melalui pemanfaatan Puskesmas Keliling.
Ia menegaskan, tanpa langkah deteksi yang lebih luas dan dukungan anggaran yang memadai, potensi penambahan kasus reaktif HIV/AIDS di Bandar Lampung akan sulit ditekan.









Tinggalkan Balasan