Media Kampung – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa blokade Selat Hormuz merupakan “bisnis yang sangat menguntungkan” setelah Angkatan Laut AS menyita kapal‑kapal Iran. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah acara di Florida pada 1 Mei 2026 dan memicu sorotan luas terhadap kebijakan luar negeri Washington.

Trump menegaskan, “Kami mengambil alih kargo. Mengambil alih minyak, bisnis yang sangat menguntungkan. Siapa yang menyangka, kami seperti bajak laut, tetapi kami tidak sedang bermain‑main,” kata presiden dalam konferensi pers yang dihadiri wartawan lokal. Kutipan tersebut dicatat oleh Anadolu Agency dan disiarkan oleh jaringan berita internasional.

Konflik bermula pada 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap instalasi strategis Iran, sebagai respons atas dugaan persiapan Tehran untuk menyerang pangkalan militer AS di Teluk. Iran membalas dengan menutup akses kapal ke Selat Hormuz, jalur laut yang mengalirkan sekitar 20 persen minyak dunia, sehingga menimbulkan ketegangan ekonomi global.

Setelah penutupan tersebut, mediasi Pakistan menghasilkan gencatan senjata pada 8 April 2026, diikuti oleh pertemuan di Islamabad pada 11‑12 April. Meskipun pertemuan tidak menghasilkan kesepakatan permanen, Presiden Trump secara unilateral memperpanjang gencatan senjata tanpa menetapkan batas waktu, atas permintaan pihak Pakistan.

Sejak 13 April, Angkatan Laut AS menegakkan blokade maritim yang menargetkan setiap kapal berlayar dari pelabuhan Iran di Selat Hormuz. Menurut laporan resmi Departemen Pertahanan, lebih dari dua puluh kapal telah disita, termasuk tanker minyak dan kontainer yang dikenai sanksi, menghasilkan penyerapan nilai kargo senilai miliaran dolar AS.

Trump membela tindakan tersebut dengan menyatakan bahwa Iran telah menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan geopolitik selama bertahun‑tahun. “Selat Hormuz sebagai senjata selama bertahun‑tahun, mereka mengatakan akan menutupnya. Jadi mereka menutupnya, lalu saya menutupnya untuk mereka,” ujar presiden, menekankan bahwa blokade merupakan respons proporsional terhadap ancaman Iran.

Komunitas internasional menanggapi kebijakan itu dengan kritik tajam. PBB mengeluarkan peringatan tentang dampak ekonomi jangka panjang jika penutupan berlanjut, sementara analis energi mencatat bahwa harga minyak mentah spot naik lebih dari 5 dolar per barel setelah blokade diterapkan. Beberapa negara Eropa menyuarakan keprihatinan akan keamanan pasokan energi dan stabilitas pasar.

Secara ekonomi, blokade mengganggu aliran minyak dari Teluk Persia ke pasar global, meningkatkan volatilitas harga dan memaksa konsumen memperbesar cadangan strategis. Data International Energy Agency menunjukkan bahwa penurunan pasokan sebesar 0,6 juta barel per hari dapat menambah tekanan pada inflasi energi di negara‑negara importir.

Pemerintahan Trump melaporkan upaya pembentukan koalisi internasional untuk menjamin keamanan maritim di Selat Hormuz, dengan dukungan dari sekutu tradisional seperti Inggris dan Australia. Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri menyatakan bahwa koalisi tersebut akan menegakkan kebebasan navigasi sambil menekan Tehran untuk kembali ke meja perundingan nuklir.

Meski demikian, situasi tetap dinamis karena Iran belum mengindikasikan kesediaan untuk mengakhiri penutupan, dan pernyataan Trump yang menyiratkan kemungkinan tidak ada perjanjian nuklir menambah ketidakpastian diplomatik. Pengamat menilai bahwa perkembangan selanjutnya akan sangat dipengaruhi pada keputusan Washington untuk melanjutkan atau menyesuaikan strategi blokade di masa mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.