Media Kampung – Gencatan senjata Israel-Lebanon 10 hari diumumkan pada 16 April 2026, disertai pernyataan Iran bahwa Selat Hormuz kini terbuka untuk kapal dagang.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan melalui unggahan media sosial, menekankan pentingnya kepatuhan Hizbullah terhadap jeda tembak.
Trump menulis, ‘Saya harap Hizbullah bertindak dengan baik dan sopan selama periode ini,’ menambah tekanan pada milisi proksi Iran.
Kesepakatan mencakup enam poin, termasuk penghentian operasi ofensif Israel di dalam wilayah Lebanon serta kewajiban Lebanon mencegah serangan Hizbullah.
Israel tetap mempertahankan hak membela diri terhadap ancaman nyata, sementara menunda serangan militer yang bersifat ofensif selama periode gencatan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan gencatan senjata memberi peluang untuk “kesepakatan perdamaian bersejarah,” namun menegaskan pelucutan senjata Hizbullah sebagai syarat utama.
Pemerintah Lebanon melalui pasukan nasionalnya diberi mandat mengawasi semua kelompok bersenjata dan menjamin kedaulatan negara selama sepuluh hari.
Amerika Serikat berperan sebagai fasilitator, berjanji mendukung negosiasi langsung menuju perjanjian damai permanen antara kedua belah pihak.
Data dari CNN Indonesia mencatat bahwa konflik enam minggu sebelumnya menewaskan lebih dari 2.000 orang dan memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi.
Di sisi lain, Iran melalui juru bicara menegaskan Selat Hormuz, jalur strategis minyak dunia, kini aman untuk pelayaran setelah pihaknya menahan aktivitas militer di kawasan itu.
Pernyataan Iran menyoroti upaya de‑eskalasi regional, sekaligus menanggapi kekhawatiran internasional tentang gangguan pasokan energi global.
Kementerian Luar Negeri Indonesia menyambut baik gencatan senjata, menekankan semua pihak harus menahan diri dan menghormati hukum humaniter internasional.
Juru bicara Kemlu Vahd Nabyl A. Mulachela menambahkan, ‘Indonesia mengharapkan agar perundingan tersebut dapat menghasilkan gencatan senjata permanen,’ sambil memantau perkembangan di lapangan.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengapresiasi langkah damai namun memperingatkan Hizbullah untuk mematuhi semua poin yang telah disepakati.
Hingga kini, tidak ada pelanggaran signifikan yang dilaporkan, dan kedua belah pihak tampak menjaga ketenangan sementara upaya diplomatik terus digalakkan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan