Media Kampung – 15 April 2026 | Pemerintah China pada Selasa (14/4/2026) menegaskan kesiapan menanggapi ancaman tarif tambahan 50 persen yang diajukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas dugaan pemasokan senjata ke Iran, sekaligus menegaskan tidak ada bukti yang mendukung tuduhan tersebut.
Trump menyatakan akan mengenakan tarif 50 persen pada barang-barang China jika terbukti Beijing mengirimkan peralatan militer ke Iran, dan mengancam langkah serupa akan diterapkan secara luas terhadap produk impor China bila bukti terungkap.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers di Beijing menolak semua tuduhan, menegaskan bahwa China menerapkan kontrol ketat pada ekspor militer sesuai hukum nasional dan kewajiban internasional, serta menyebut laporan media yang mengaitkan China dengan pasokan senjata ke Iran sebagai sepenuhnya fiktif.
Guo menambahkan bahwa jika Amerika Serikat tetap melanjutkan kenaikan tarif berdasarkan tuduhan yang tidak terbukti, China akan mengambil langkah balasan yang “tegas dan proporsional” demi melindungi kepentingan perdagangan nasional.
Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Hossein Mohebbi, mengonfirmasi bahwa Iran masih menyimpan sejumlah kemampuan militer yang belum dipergunakan, dan menegaskan kesiapan mengungkapkan kemampuan tersebut apabila konflik dengan Amerika Serikat dan sekutunya berlanjut.
Reza Talaeinik, juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, menambahkan bahwa angkatan bersenjata Iran memiliki persediaan rudal, drone, amunisi, dan peralatan lainnya yang cukup untuk melanjutkan operasi ofensif maupun defensif dalam waktu mendatang.
Blokade Selat Hormuz yang diperintahkan Trump pada awal April 2026 menambah ketegangan regional, karena jalur tersebut menyumbang sekitar 20 persen pasokan energi dunia, dan para pengamat menilai tindakan tersebut dapat memperparah harga minyak serta mengganggu rantai pasok global.
Kenaikan harga minyak mentah pada minggu ini mencapai lebih dari 7 persen setelah pengumuman blokade, sementara perusahaan pelayaran melaporkan penundaan pengiriman barang dari Asia ke Eropa akibat kekhawatiran keamanan di jalur laut utama.
Perselisihan tarif ini muncul di tengah ketegangan perdagangan yang sudah berlangsung lama antara Washington dan Beijing, di mana kedua negara sebelumnya telah memberlakukan tarif tambahan pada produk elektronik, baja, dan pertanian sejak 2018.
Presiden Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada Mei 2026, pertemuan yang sebelumnya ditunda karena eskalasi konflik di Timur Tengah, dan kedua pemimpin diharapkan membahas tidak hanya isu tarif tetapi juga keamanan regional.
Para analis internasional memperingatkan bahwa respons balasan China dapat berupa tarif balasan pada barang pertanian AS atau pembatasan investasi, yang berpotensi menambah tekanan pada ekonomi Amerika yang sedang berjuang melawan inflasi.
Hingga saat ini, tidak ada keputusan resmi mengenai penerapan tarif 50 persen, namun kedua pemerintah terus memantau perkembangan intelijen dan menyiapkan langkah diplomatik untuk menghindari eskalasi yang lebih luas.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan