Media Kampung – 10 Maret 2026 | Iran kembali menegaskan strategi militernya dalam menghadapi tekanan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Dalam beberapa pekan terakhir, Tehran melancarkan serangkaian serangan ke wilayah Israel serta ke pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah, menegaskan tujuan utama: menjadikan konflik “berlarut‑larut, tersebar secara regional, dan mahal secara ekonomi”.

Strategi atrisi yang dipilih

Menurut Dr. H. A. Hellyer, pakar keamanan Timur Tengah dari Royal United Services Institute (RUSI), Iran tidak berupaya mengalahkan Amerika Serikat atau Israel secara konvensional. Sebaliknya, doktrin yang diadopsi adalah “perang atrisi” – sebuah pendekatan yang berupaya menguras sumber daya lawan, menimbulkan kerugian berkelanjutan, serta menimbulkan ketidakpastian strategis.

Nicole Grajewski, asisten profesor di Centre for International Studies (CERI), Sciences Po, menambahkan bahwa selama “Perang 12 Hari” melawan Israel tahun lalu, Iran lebih banyak menargetkan infrastruktur sipil. “Ketepatan bukanlah hal utama. Tujuannya menanamkan rasa takut dan trauma psikologis di tengah masyarakat,” ujarnya.

Kapasitas rudal dan drone

Iran diyakini memiliki persenjataan rudal balistik terlengkap di Timur Tengah. Israel memperkirakan sekitar 2.500 unit rudal, mencakup jarak pendek (hingga 1.000 km) dan menengah (1.000–3.000 km). Sistem utama yang disebutkan meliputi rudal Sejjil dengan jangkauan hingga 2.000 km, serta Fattah, rudal hipersonik yang konon mampu melampaui kecepatan suara.

Fasilitas produksi rudal yang dibangun di bawah tanah – yang sering disebut media Iran sebagai “kota rudal” – tetap menjadi misteri karena ukuran dan stok amunisi belum terverifikasi secara independen. Meskipun laporan Centcom menunjukkan penurunan peluncuran rudal balistik Iran sebesar 86 % sejak awal konflik, Dr. Hellyer menilai bahwa kapasitas serangan tetap signifikan untuk menargetkan infrastruktur Israel, pangkalan regional AS, dan sekutu Teluk.

Dampak ekonomi global

Selain tekanan militer, Iran mengancam arus energi dunia melalui potensi gangguan di Selat Hormuz. “Bahkan gangguan terbatas di Selat itu bisa berdampak ekonomi global yang parah,” kata Hellyer. Penguncian atau penurunan aliran minyak lewat selat strategis ini dapat memicu lonjakan harga energi, mempengaruhi pasar internasional serta menambah beban ekonomi pada negara‑negara importir.

Presiden AS Donald Trump, melalui platform Truth Social, menyatakan bahwa “pertahanan udara, angkatan udara, angkatan laut, dan kepemimpinan mereka sudah hancur.” Pernyataan ini mencerminkan keyakinan Washington bahwa serangan Iran tidak akan mengubah keseimbangan kekuatan secara signifikan, namun mengingat strategi atrisi, tekanan psikologis dan ekonomi tetap menjadi senjata utama Tehran.

Implikasi regional

Strategi Iran berpotensi memperluas zona konflik, melibatkan negara‑negara Timur Tengah yang menampung pangkalan militer AS. Negara‑negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar dapat menjadi sasaran serangan tidak langsung, memperparah ketegangan geopolitik di kawasan. Pada saat yang sama, aliansi sekutu Barat dengan Israel semakin menguat, menyiapkan respons militer yang lebih terkoordinasi.

Dengan pendekatan yang menekankan pada biaya tinggi bagi lawan, Iran berharap dapat menahan tekanan internasional dan memperoleh ruang tawar menegosiasikan kondisi yang lebih menguntungkan di masa depan.