Caracas tuntut AS bebaskan Maduro menjadi sorotan dunia internasional setelah ribuan warga Venezuela memadati berbagai ruas jalan ibu kota pada Senin (12/01/2026). Aksi massa tersebut digelar sebagai bentuk protes terhadap penahanan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, oleh otoritas Amerika Serikat.

Sejak pagi, demonstran terlihat membawa bendera nasional Venezuela serta foto pasangan Maduro–Flores. Mereka menyerukan pembebasan segera dan mengecam keras operasi militer Amerika Serikat yang berujung pada penahanan pemimpin negara tersebut. Aksi berlangsung di tengah situasi politik yang memanas dan ketidakpastian arah pemerintahan nasional.

Para peserta aksi juga menyatakan dukungan terhadap Delcy Rodriguez yang saat ini menjalankan peran sebagai presiden sementara. Dukungan tersebut disampaikan sebagai bentuk solidaritas politik sekaligus penegasan bahwa mereka menolak intervensi asing dalam urusan domestik Venezuela.

Di sisi lain, pemerintah Venezuela yang tersisa telah memberlakukan status keadaan darurat nasional sejak awal Januari. Kebijakan itu disertai perintah kepada aparat keamanan untuk melakukan pencarian dan penangkapan terhadap pihak-pihak yang dianggap mendukung atau mempromosikan serangan bersenjata Amerika Serikat. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas keamanan di tengah meningkatnya ketegangan.

Maduro sendiri saat ini menghadapi sejumlah dakwaan kriminal di pengadilan federal Amerika Serikat, termasuk tuduhan konspirasi narkotika, impor kokain, serta kepemilikan senjata ilegal. Ia dan sang istri membantah seluruh dakwaan tersebut dan menyatakan tidak bersalah. Sidang lanjutan dijadwalkan berlangsung pada Maret mendatang.

Gelombang demonstrasi di Caracas mencerminkan polarisasi politik yang semakin tajam di Venezuela. Sementara sebagian warga menilai penahanan Maduro sebagai bentuk penegakan hukum internasional, kelompok pendukungnya melihat langkah Amerika Serikat sebagai pelanggaran kedaulatan negara dan ancaman serius bagi stabilitas kawasan Amerika Latin. (balqis)