Media Kampung – Sega secara resmi membatalkan proyek pengembangan ‘Super Game‘, sebuah layanan langsung (live service) yang direncanakan untuk melampaui standar permainan biasa, karena tekanan kompetisi pasar yang semakin intens. Keputusan ini menandai perubahan strategi perusahaan yang kini menurunkan prioritas pada model free-to-play (F2P) dan mengalihkan sumber daya pengembang ke pembuatan game berbayar konvensional.
Awalnya diumumkan pada 2021, Sega menargetkan peluncuran ‘Super Game’ dengan daya tarik global pada Maret 2026. Namun, dalam laporan terbaru, perusahaan menyatakan proyek tersebut dihentikan menyusul kondisi bisnis dan persaingan pasar yang kian sulit. Sega juga mengalihkan sekitar 100 pengembang untuk fokus pada pengembangan game tradisional yang dibayar di muka oleh pemain.
Keputusan ini dipicu oleh hasil yang kurang memuaskan dari Sonic Rumble Party, sebuah game free-to-play dari Sega, yang menjadi salah satu faktor penurunan minat terhadap model live service. Namun, keputusan tersebut juga dipengaruhi oleh risiko besar yang dialami industri game dalam beberapa tahun terakhir, di mana sejumlah game layanan langsung dan proyek ambisius telah dibatalkan atau studio pengembangnya ditutup, seperti yang terjadi pada beberapa judul dan perusahaan ternama di industri.
Sega menyatakan bahwa tujuan awal proyek ini adalah menciptakan bentuk hiburan baru yang melampaui konsep game konvensional. Mereka menjalani fase riset dan pengembangan jangka panjang untuk memastikan kelayakan teknis sebelum memulai pengembangan penuh. Namun, dengan munculnya judul-judul pesaing yang serupa dan kondisi bisnis saat ini, perusahaan memutuskan untuk menghentikan proyek ini pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026.
Berbeda dengan pembatalan besar lainnya di industri yang sering diikuti oleh pemutusan hubungan kerja dan penutupan studio, Sega justru mengalihkan banyak pengembangnya untuk mengerjakan proyek-proyek yang sudah dikenal dan dicintai, seperti seri Sonic, Crazy Taxi, dan Jet Set Radio. Langkah ini dianggap sebagai upaya perusahaan untuk mengembalikan fokus pada game yang telah memiliki basis penggemar kuat.
Seiring industri game terus mengalami perubahan, beberapa perusahaan besar juga menyesuaikan strategi mereka dengan mengurangi investasi pada proyek live service yang mahal dan berisiko tinggi, dan kembali ke game single-player atau model bisnis yang lebih stabil. Sega sendiri mengindikasikan bahwa mereka akan berhati-hati dalam mengambil langkah selanjutnya, mengutamakan kelayakan dan keberlanjutan pengembangan game.
Pengumuman pembatalan ini menjadi tanda bahwa industri game mulai mengoreksi diri setelah bertahun-tahun mengalami tren investasi besar pada game layanan langsung yang tidak selalu berhasil. Sega berharap dengan fokus kembali pada game tradisional, mereka bisa menghadirkan pengalaman bermain yang lebih berkualitas dan berkelanjutan bagi para pemain.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan