Media Kampung – PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) mengumumkan rencana investasi sebesar Rp26,76 triliun yang bertujuan untuk memperkuat hilirisasi industri perkebunan di Indonesia. Investasi ini mencakup pengembangan sektor hulu hingga pembangunan fasilitas pengolahan guna meningkatkan nilai tambah komoditas serta mendukung ketahanan pangan dan energi nasional.
Direktur Utama PTPN I, Abdul Rivai Ras, menjelaskan bahwa rencana investasi ini merupakan bagian dari transformasi perusahaan untuk mengoptimalkan potensi perkebunan, meningkatkan daya saing, dan memperluas kontribusi terhadap perekonomian nasional. Menurut Rivai, pengembangan bisnis PTPN I sejalan dengan agenda prioritas pemerintah yang tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam hal swasembada pangan, ketahanan energi, penciptaan lapangan kerja, pemerataan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Rivai menegaskan, “Asta Cita Presiden Prabowo memiliki korelasi erat dengan bidang bisnis PTPN I. Sumber daya lahan, komoditas perkebunan, serta jaringan operasional yang tersebar di berbagai wilayah menjadi modal perusahaan untuk mendukung agenda tersebut.”
Alokasi Investasi dan Pengembangan Sektor
Dari total rencana investasi Rp26,76 triliun, sebesar Rp16,34 triliun akan dialokasikan untuk pengembangan sektor hulu dengan cakupan areal perkebunan seluas 342.321 hektare. Sementara itu, Rp10,42 triliun disiapkan untuk pembangunan 25 fasilitas pengolahan di sejumlah wilayah strategis Indonesia.
Di sektor hulu, fokus pengembangan mencakup peremajaan tanaman dan optimalisasi sejumlah komoditas unggulan, seperti jagung, kelapa, karet, kopi, kakao, jambu mete, dan pala. Sementara di sektor hilir, pembangunan fasilitas pengolahan diarahkan untuk memperkuat keterhubungan antara produksi bahan baku, industri pengolahan, dan pasar, sehingga komoditas tidak hanya dipasarkan dalam bentuk mentah tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Peluang Baru dan Kemitraan dengan Petani
Salah satu peluang yang tengah dikaji adalah pemanfaatan jagung sebagai bahan baku bioetanol untuk mendukung pengembangan energi baru terbarukan. Pengembangan ini merupakan bagian dari upaya PTPN I untuk menjajaki peluang bisnis baru berbasis komoditas perkebunan dan pertanian, dengan tetap mempertimbangkan kelayakan bisnis serta kebutuhan pasar. Rivai menambahkan, “Hilirisasi bagi PTPN I bukan sekadar pengembangan bisnis baru, melainkan upaya mengubah cara perusahaan menciptakan nilai.”
Untuk memastikan investasi berjalan terukur, PTPN I menyiapkan pengawalan proyek melalui studi kelayakan bisnis, integrasi rantai pasok, dan penguatan kepastian pasar melalui pembeli siaga (off-taker). Langkah ini bertujuan agar pembangunan fasilitas pengolahan sejalan dengan ketersediaan bahan baku dan kebutuhan pasar, sehingga investasi yang dilakukan diharapkan memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
PTPN I juga mendorong penguatan kemitraan dengan petani dan pelaku usaha lokal, termasuk melalui pengembangan skema perkebunan plasma. Kemitraan ini diharapkan dapat memperkuat pasokan bahan baku sekaligus memperluas keterlibatan masyarakat dalam pengembangan industri perkebunan. Rivai menyatakan, “Petani merupakan bagian dari garda terdepan dalam menopang ketahanan pangan bangsa.”
Realisasi Pengembangan Komoditas
Hingga awal Oktober 2026, PTPN I telah mengembangkan areal karet seluas 1.479 hektare dan jagung 1.125 hektare. Secara keseluruhan, realisasi pengembangan komoditas unggulan di sektor on-farm diproyeksikan mencapai 11.516 hektare, atau sekitar 59-60 persen dari target tahunan 2026. Percepatan program dilakukan melalui koordinasi lintas fungsi, pengendalian anggaran, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan melalui pendekatan pentahelix.
Dengan investasi ini, PTPN I menargetkan terbentuknya rantai nilai industri perkebunan yang lebih kuat, dari budidaya hingga pengolahan produk. Selain meningkatkan nilai tambah komoditas, strategi hilirisasi ini diharapkan akan membuka peluang usaha, memperluas manfaat ekonomi bagi petani dan mitra lokal, serta memperkuat kontribusi perusahaan dalam mendukung ketahanan pangan dan energi nasional.











