Media Kampung, Bojonegoro – Harga kedelai di Kabupaten Bojonegoro mengalami kenaikan signifikan pada Kamis 8 Oktober 2026. Kenaikan ini terjadi pada kedelai lokal maupun impor yang menjadi bahan baku utama perajin tahu dan tempe.
Berdasarkan data harga di sejumlah pasar tradisional, seperti Pasar Pariwisata dan Pasar Banjarejo, serta tabel Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro (Dindagkop dan UM) Pemkab Bojonegoro, harga kedua jenis kedelai tersebut mengalami lonjakan. Harga kedelai lokal kini mencapai Rp16.928,57 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp14.433,33 per kilogram. Ini berarti harga kedelai lokal meningkat sekitar Rp2.495,24 atau 14,74 persen.
Sementara itu, kenaikan lebih tinggi terjadi pada kedelai impor yang harganya mencapai Rp17.357,14 per kilogram, dari sebelumnya Rp13.730,30 per kilogram. Harga kedelai impor naik Rp3.626,84 atau sekitar 20,90 persen.
Harga Tempe dan Tahu Belum Naik
Kenaikan harga bahan baku ini belum langsung diikuti dengan kenaikan harga jual tempe dan tahu di tingkat pedagang. Tolib, pedagang warung kelontong di Kelurahan Klangon, Bojonegoro, menyatakan bahwa harga tempe dan tahu masih relatif sama. Untuk tempe, harga yang dijual saat ini sekitar Rp2.000 per potong untuk ukuran kecil, Rp4.000 ukuran sedang, dan Rp6.000 untuk ukuran besar. Sedangkan tahu ukuran kecil dijual sekitar Rp1.000 per potong, ukuran sedang Rp3.000, dan ukuran besar Rp5.000 per potong.
Meski harga jual belum berubah, Tolib mengakui ukuran tempe mulai mengalami penyesuaian. Tempe yang dijual dengan harga yang sama kini cenderung dibuat lebih kecil atau lebih tipis. “Ya, tempe mulai menipis,” ujarnya.
Kenaikan Harga Kedelai Jadi Beban Perajin
Kedelai merupakan bahan baku utama dalam produksi tahu dan tempe. Oleh karena itu, kenaikan harga hingga lebih dari 20 persen pada kedelai impor berpotensi menambah beban biaya produksi para perajin. Di sisi lain, pedagang masih berupaya mempertahankan harga jual agar tidak terlalu membebani konsumen. Kondisi ini membuat perajin dan pedagang harus menyesuaikan ukuran produk ketika harga bahan baku mengalami kenaikan.
Dengan terus meningkatnya harga kedelai, para perajin di Bojonegoro menghadapi tantangan dalam mempertahankan kualitas dan ukuran produk mereka, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi konsumen.














