Media Kampung – 09 April 2026 | Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengonfirmasi bahwa ruang untuk menurunkan BI Rate semakin menyempit akibat ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memicu volatilitas pasar global. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (8 April 2026).
Warjiyo menjelaskan bahwa kebijakan suku bunga menjadi instrumen utama untuk menjaga stabilitas harga, namun kondisi eksternal yang tidak menentu mengurangi fleksibilitas otoritas moneter. Konflik di Timur Tengah meningkatkan risiko gejolak nilai tukar dan arus modal masuk‑keluar.
BI saat ini menahan suku bunga acuan pada 5,75 persen, level yang belum berubah sejak pertengahan 2024. Pemerintah sebelumnya menargetkan penurunan bertahap, namun kini menilai langkah tersebut berisiko memperlemah nilai tukar.
Warjiyo menambahkan bahwa bank sentral akan terus memantau indikator inflasi inti, yang pada Februari 2026 tercatat 3,1 persen, masih di atas target 2,5‑3 persen. Jika tekanan harga tetap tinggi, kemungkinan penyesuaian kebijakan moneter akan ditunda.
Di sisi lain, Bank Indonesia tetap berkomitmen pada kebijakan likuiditas yang mendukung pertumbuhan ekonomi domestik, yang diproyeksikan tumbuh 5,2 persen tahun ini. Kebijakan tersebut mencakup penyediaan dana melalui operasi pasar terbuka dengan syarat yang tetap selektif.
Analis pasar menilai bahwa konflik AS‑Iran dapat memperpanjang periode ketidakpastian global, memaksa bank sentral lain seperti Federal Reserve untuk menahan atau bahkan meningkatkan suku bunga mereka. Kebijakan moneter yang ketat di AS berpotensi menurunkan arus modal masuk ke pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
Dampak tersebut dirasakan pada sektor perbankan, dimana spread kredit menurun dan biaya pembiayaan konsumen naik. Konsumen dan pelaku usaha diharapkan menyesuaikan strategi pengeluaran mengingat biaya pinjaman yang tetap tinggi.
Warjiyo menutup pernyataannya dengan menekankan pentingnya koordinasi antara otoritas moneter dan fiskal untuk menjaga keseimbangan makroekonomi. Ia menegaskan bahwa meskipun ruang penurunan suku bunga terbatas, bank sentral akan tetap siap menanggapi perkembangan situasi internasional yang cepat berubah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan