Media Kampung – Nasirun, seorang perupa kelahiran Cilacap, telah menjadi rujukan penting bagi komunitas seni, bahkan berkembang menjadi mazhab kehidupan seniman. Meninggalnya Nasirun yang dikenang banyak orang ini terjadi belum genap seratus hari lalu. Dalam diskusi bertajuk Mengenang Nasirun di Artsubs, Balai Pemuda Surabaya, Ugo Untoro, salah satu pembicara, mengungkapkan kesulitan untuk membicarakan sosok yang telah memberikan banyak inspirasi.
Pesan dari Diskusi
Diskusi tersebut, yang dipimpin oleh kurator Nirwan Dewanto, juga menghadirkan Sarah Monica, seorang antropolog dari UI, dan Jumaldi Alfi, perupa dan tetangga Nasirun. Alfi menegaskan bahwa Nasirun adalah sosok yang unik dan penuh paradoks, yang mampu mengubah tradisi menjadi karya kontemporer. Sarah menambahkan bahwa karya-karya Nasirun telah menjadi objek penelitian dalam kajiannya.
Kenangan dan Teladan
Selama diskusi, para seniman mengungkapkan lebih banyak tentang kebaikan Nasirun. Ugo menyatakan, “Ia tak pernah ngomong kasar, misuh, dan sebagainya,” menunjukkan bahwa perilakunya yang baik meninggalkan kesan mendalam. Meskipun kita sering baru menyadari nilai seseorang setelah ia tiada, kesaksian teman-temannya menunjukkan bahwa teladan Nasirun terus hidup di kalangan seniman.
Dampak Kehilangan
Kehilangan Nasirun juga berdampak pada Alfi, yang mengaku kehilangan gairah melukis setelah kepergiannya. “Saya merasa seperti orang linglung, tidur pun sulit,” ujarnya, menggambarkan betapa besar ruang yang ditinggalkan oleh kehadiran Nasirun.
Kesimpulan
Ugo mengenang perkenalannya dengan Nasirun yang dimulai dengan sapaan sederhana menggunakan bahasa ibu. Ini menunjukkan bahwa meskipun Nasirun menjadi seniman besar, ia tetap tidak melupakan asal-usulnya. Karya dan sikapnya akan terus menginspirasi generasi mendatang.













