Media Kampung – Bagi pencinta seni, hari ini, Minggu (410) menjadi kesempatan terakhir untuk menikmati Art Jakarta 2026 dan melihat lebih dekat beragam karya, instalasi, hingga kolaborasi lintas industri yang mengisi pameran. Salah satunya adalah berbagai proyek kreatif yang mempertemukan brand dengan para seniman melalui karya dan pengalaman yang menarik untuk dijelajahi.
Kolaborasi Menarik
Kolaborasi antara brand dan seniman di Art Jakarta 2026 hadir dalam beragam bentuk. ALCHEMIST, brand parfum yang dikenal lewat koleksi wewangian yang unik dan terkurasi, menggandeng pelukis kontemporer asal Jepang, Mai Yokoyama. Sosok The Sphinx menjadi elemen utama yang hadir di booth hingga kemasan produk. Karakter tersebut menggambarkan kecerdasan manusia sekaligus kekuatan imajinasi dan dihadirkan untuk membangun dialog dengan identitas ALCHEMIST.
Sementara itu, jaringan kafe DJOURNAL berkolaborasi dengan seniman Darbotz. Kolaborasi tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai elemen, mulai dari desain custom dan merchandise eksklusif, tiga kreasi kopi, desain booth, hingga karya patung. Pertemuan antara identitas DJOURNAL dan karakter visual Darbotz kemudian mengajak pengunjung untuk menemukan kembali “Monster of Excitement” yang ada dalam diri mereka.
Kolaborasi lainnya hadir dari MINI yang menggandeng desainer Paul Smith untuk memperkuat tampilan booth mereka di Art Jakarta. Mengusung gagasan tentang individualitas dan optimisme, kolaborasi ini tampil melalui warna-warna yang berani, garis khas Paul Smith, serta detail tulisan tangan. Melalui instalasi tersebut, MINI mengajak pengunjung mengeksplorasi berbagai pemikiran personal mengenai arti sebuah “destinasi”.
Kehadiran Main Partners Baru
Batik Iwan Tirta Art Jakarta 2026 juga menjadi momentum bagi kehadiran sejumlah Main Partners baru, salah satunya AIA. Melalui proyek bertajuk The Living Legacy, AIA berkolaborasi dengan Maestro Batik Iwan Tirta. Kolaborasi ini mengajak pengunjung melihat kembali ingatan dan jejak masa lalu yang membentuk kehidupan saat ini, sekaligus memikirkan apa yang nantinya akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di sisi lain, EDISII, penerbit seni rupa cetak pertama di Indonesia, kembali hadir dengan membawa karya-karya seni cetak berkualitas museum. EDISII bekerja bersama sejumlah seniman untuk menghasilkan karya edisi terbatas, baik yang berasal dari karya sebelumnya maupun karya yang dibuat secara khusus untuk diterbitkan dalam format cetak. Setelah sebelumnya mendukung Art Jakarta Papers pada Februari lalu, EDISII kembali membawa pilihan karya dari Andy Dewantoro, Arin Dwihartanto Sunaryo, Cecil Mariani, Paul Kadarisman, Indra Leonardi, Iwan Effendi, Naufal Abshar, Sunaryo, Ugo Untoro, dan Yusra Martunus.
Aesop Women’s Library
Pengalaman lain dapat ditemukan melalui Aesop Women’s Library. Brand perawatan kulit, rambut, dan tubuh asal Australia tersebut menghadirkan rak-rak berisi lebih dari 1.500 buku karya penulis perempuan yang dapat dipilih pengunjung sebagai hadiah sastra. Untuk edisi 2026, Aesop Women’s Library mengusung tema “Body of Work from pulse to pager”. Tema tersebut merayakan bagaimana pengalaman tubuh perempuan dapat menjadi bagian dari proses penulisan, sekaligus membuka ruang untuk melihat identitas yang selama ini kurang mendapat perhatian. Melalui bahasa, pengalaman tersebut dapat diterjemahkan menjadi bentuk keindahan yang sebelumnya tersembunyi. Pilihan buku dalam instalasi tersebut mencakup berbagai tema dan genre. Tahun ini, Aesop menghadirkan tujuh judul berbahasa Inggris dan Indonesia yang berasal dari sejumlah penerbit lokal, termasuk Gramedia.
Menutup rangkaian pengalaman tersebut, The Transformation Lounge memberikan gambaran mengenai The Art of Transformation dari The Solitaire, pusat bedah estetik dan kesehatan umur panjang yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus Sanur. Melalui The Transformation Lounge, dunia medis dan seni dipertemukan dalam satu pengalaman. Presisi yang menjadi bagian dari praktik medis berdialog dengan keahlian artistik, menghadirkan perspektif lain mengenai proses transformasi.














