Media Kampung, Kudus – Sebanyak 675 penari tampil serentak dalam pagelaran kolosal Tari Lajur Caping Kalo di Pendopo Kabupaten Kudus pada Sabtu, 26 September 2026, yang berhasil mencatatkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori pagelaran Tari Lajur Caping Kalo terbanyak.
Pagelaran ini merupakan inisiatif untuk memperkenalkan kembali Caping Kalo, penutup kepala perempuan yang menjadi bagian dari busana adat Kudus, yang keberadaannya mulai langka karena berkurangnya jumlah perajin penganyam bambu. Caping Kalo kini lebih sering dijumpai dalam kegiatan budaya dan seremonial.
Pelestarian Caping Kalo melalui Tari Lajur Caping Kalo
Sejak tahun 2022, Yayasan Kebudayaan dan Bantuan Nusantara (YKBN) bersama PT Nojorono Kudus menggali dan mendokumentasikan sejarah serta nilai budaya Caping Kalo. Dari proses observasi tersebut, dipahami bahwa pelestarian Caping Kalo tidak cukup dengan merekam sejarahnya, tetapi juga harus menghadirkannya kembali dalam kehidupan masyarakat.
Tari Lajur Caping Kalo lahir sebagai representasi gerak yang terinspirasi dari proses pengolahan bambu menjadi caping. Tari ini menjadi sarana baru untuk mengenalkan nilai budaya dan cerita di balik kerajinan khas Kudus tersebut kepada masyarakat luas.
Kolaborasi dan Dukungan Pemerintah
Pagelaran kolosal Tari Lajur Caping Kalo yang melibatkan ratusan penari ini diselenggarakan bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kota Kudus ke-477. Kegiatan ini didukung penuh oleh Pemerintah Kabupaten Kudus dan dihadiri oleh Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Giring Ganesha Djumaryo, bersama Bupati Kudus, Samx27ani Intakoris, serta jajaran pemerintah daerah.
Makna dan Harapan Pelestarian Budaya
Dimas Handoko, Kepala Departemen CSR PT Nojorono Tobacco International, menyampaikan bahwa pelestarian budaya membutuhkan ruang agar warisan masa lalu tetap relevan dan dikenal oleh generasi sekarang. Tari Lajur Caping Kalo menjadi media untuk merawat nilai budaya sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat luas agar budaya terus tumbuh seiring waktu.
Menurut Dimas, Caping Kalo tidak hanya sekadar penutup kepala, melainkan mengandung cerita, keterampilan, dan nilai budaya yang penting untuk diwariskan. Dengan semakin dikenalnya Tari Lajur Caping Kalo, peluang pelestarian warisan budaya ini menjadi lebih besar dan mampu menginspirasi generasi berikutnya.
Pagelaran ini menjadi momentum penting dalam menjaga dan mempromosikan warisan budaya Kudus yang unik, sekaligus membuktikan bahwa kolaborasi antara komunitas, perusahaan, dan pemerintah dapat menghasilkan dampak positif untuk pelestarian budaya lokal.












Tinggalkan Balasan