Media Kampung – 11 April 2026 | Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dinilai berada pada tingkat undervalued dan menarik perhatian investor pada awal April 2026.

Laba bersih BCA pada tahun 2025 tercatat Rp57,5 triliun, naik 4,9% dibandingkan tahun sebelumnya.

Harga saham BBCA mengalami penurunan sekitar 19% sejak awal tahun, diperdagangkan di kisaran Rp6.500 per lembar, jauh di bawah level psikologis Rp7.000.

Rendy Yefta, analis pasar modal, menyebut kondisi ini sebagai anomali yang jarang terjadi pada saham bluechip berkapitalisasi besar.

Ia menggambarkan peluang beli ini seperti memperoleh mobil Avanza dengan harga showroom mobil mewah, menekankan nilai diskon yang signifikan.

Yefta memperkirakan valuasi BBCA akan kembali ke rasio Price to Book Value (PBV) sekitar 4 kali ketika pasar stabil.

Secara historis, BBCA diperdagangkan pada PBV antara 4 hingga 5 kali, menunjukkan ruang kenaikan yang cukup lebar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sekitar 15,79% secara year‑to‑date, memperparah tekanan pada harga BBCA.

Terlepas dari tekanan pasar, fundamental BCA tetap kuat dengan pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan.

Keunggulan biaya dana (CASA) yang murah serta basis nasabah yang loyal menambah daya tahan profitabilitas.

Efisiensi operasional yang tinggi juga menjadi faktor pendukung kinerja keuangan bank.

Di sisi lain, BCA tetap melanjutkan strategi perluasan jaringan kantor cabang meski berada dalam era digital.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyatakan target 1.270 cabang pada akhir 2025, dengan lebih dari 80% sudah menerapkan inovasi digital.

Pembukaan cabang baru difokuskan pada wilayah dengan aktivitas ekonomi padat dan pertumbuhan tinggi.

Setiap cabang baru dilengkapi mesin layanan mandiri untuk menurunkan biaya operasional.

Strategi ini mendukung ekosistem hybrid banking yang menggabungkan layanan fisik dan digital.

BCA juga meningkatkan investasi pada kanal mobile, internet banking, point of sales, ATM, dan contact center.

Para analis menilai bahwa kombinasi harga diskon dan fundamental kuat menjadikan BBCA peluang capital gain yang signifikan.

Jika PBV kembali ke kisaran 4‑5 kali, perkiraan harga saham dapat melampaui level psikologis Rp7.000.

Rilis laporan keuangan kuartal I 2026 yang akan datang diharapkan memperkuat pandangan bullish.

Investor diperingatkan bahwa volatilitas pasar tetap menjadi faktor risiko utama.

Namun, neraca kuat dan pertumbuhan laba memberikan bantalan terhadap fluktuasi jangka pendek.

Bandingkan dengan bank menengah, profit BCA jauh melampaui kapitalisasi pasar mereka.

Pengamat pasar menempatkan BBCA sebagai barometer kesehatan sektor perbankan Indonesia.

Outlook menunjukkan harga saham dapat berlari kembali ketika sentimen pasar membaik.

Secara keseluruhan, BBCA berada pada posisi unik: fundamental solid, harga terdiskon, dan ekspansi jaringan yang berkelanjutan.

Para investor yang mengincar saham bluechip berpotensi memperoleh keuntungan signifikan bila pasar kembali normal.

Kondisi ini menandai peluang langka bagi pelaku pasar modal Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.