Media Kampung – 10 April 2026 | Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) BRI pada 10 April 2026 memutuskan pembagian dividen akhir tahun 2025 sebesar Rp346 per lembar, menambah total distribusi menjadi Rp52,1 triliun.
Keputusan tersebut meningkatkan rasio pembagian dividen menjadi 92 persen meski laba bersih BRI turun dibandingkan tahun sebelumnya.
Saham BRI tercatat pada sesi siang dengan harga Rp3.370, naik 2,74 persen sejak penutupan sebelumnya, menjadikannya saham yang paling tinggi kenaikannya di antara empat bank besar.
Bank Mandiri, BNI, dan BCA masing-masing juga menguat, namun laju kenaikannya lebih moderat, mencerminkan sentimen positif pada sektor perbankan.
Analis senior Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai tekanan pada saham big banks akan mereda seiring stabilisasi nilai tukar rupiah.
Ia menekankan bahwa pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.100 per dolar harus memicu intervensi agresif Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas.
Jika nilai tukar kembali menguat, ekspektasi penurunan tekanan jual asing dapat membuka peluang rebound bagi saham-saham bank besar.
Dividen Rp346 per saham merupakan bagian dari kebijakan BRI untuk memperkuat daya tarik bagi investor institusional dan ritel.
Rasio pembayaran yang tinggi menunjukkan komitmen manajemen dalam mengembalikan nilai kepada pemegang saham meski profitabilitas menurun.
Peningkatan harga saham pada hari itu mencerminkan respons pasar terhadap keputusan dividen serta ekspektasi perbaikan kinerja ke depan.
Data internal BRI menunjukkan penurunan laba bersih, namun bank tetap mempertahankan likuiditas yang kuat, memungkinkan distribusi dividen yang signifikan.
Para analis menilai bahwa kebijakan dividen yang konsisten dapat menstabilkan permintaan saham BRI di tengah volatilitas pasar.
Selain dividen, BRI juga menyoroti program koperasi desa Merah Putih (KDMP) yang dianggap dapat meningkatkan prospek bisnis di wilayah pedesaan.
Program tersebut diharapkan mendukung pertumbuhan kredit mikro serta memperluas basis nasabah, berpotensi memperkuat kinerja jangka menengah.
Dalam konteks makroekonomi, ekspektasi intervensi BI terhadap rupiah menjadi faktor kunci yang memengaruhi arah pergerakan saham perbankan.
Para pelaku pasar menunggu kebijakan moneter selanjutnya, khususnya terkait suku bunga dan likuiditas pasar.
Dengan dividend payout ratio yang tinggi, BRI berupaya mempertahankan kepercayaan investor di tengah tantangan profitabilitas.
Pengumuman ini diharapkan meningkatkan minat beli dari investor yang mengutamakan imbal hasil dividen.
Secara keseluruhan, keputusan dividen dan pergerakan harga saham BRI mencerminkan dinamika positif pada sektor perbankan Indonesia pada kuartal pertama 2026.
Para pengamat memperkirakan bahwa stabilitas nilai tukar dan kebijakan moneter akan menjadi penentu utama kelanjutan tren kenaikan saham BRI ke depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan