Media Kampung – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mengumumkan bahwa mereka memerlukan investasi sebesar USD 5 juta hingga USD 6 juta per megawatt (MW) untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi. Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, menjelaskan bahwa besarnya biaya investasi ini dipengaruhi oleh kondisi lokasi pengembangan, termasuk tingkat kesulitan akses menuju wilayah proyek.
Target Peningkatan Kapasitas
PGE menargetkan peningkatan kapasitas terpasang pembangkit panas bumi menjadi 1 gigawatt (GW) pada tahun 2028, dari posisi saat ini yang mencapai 727 MW. Selanjutnya, kapasitas tersebut ditargetkan meningkat menjadi 1,8 GW pada tahun 2034.
Rincian Investasi
Andi menambahkan, biaya investasi per MW dapat bervariasi, tergantung pada kompleksitas akses di lokasi. Sebagai contoh, untuk proyek di Sumatera, biaya investasi bisa berkisar antara USD 5 juta hingga USD 6 juta per MW. Mengacu pada nilai tukar USD 1 setara dengan Rp 17.992, maka investasi ini setara dengan sekitar Rp 89,96 miliar hingga Rp 107,95 miliar per MW.
Kebutuhan Dana untuk Peningkatan Kapasitas
Dengan asumsi biaya investasi yang sama, untuk mencapai target kapasitas 1.000 MW pada 2028, PGE memerlukan dana tambahan berkisar antara Rp 24,56 triliun hingga Rp 29,47 triliun. Sementara itu, untuk mencapai target kapasitas 1.800 MW pada 2034, kebutuhan dana diperkirakan mencapai sekitar Rp 96,53 triliun hingga Rp 115,83 triliun.
Risiko dan Keekonomian Proyek
Andi menjelaskan bahwa pengembangan panas bumi membutuhkan investasi besar karena risiko pada tahap eksplorasi cukup tinggi. Dengan tingkat keberhasilan pengeboran eksplorasi sekitar 50 persen, PGE perlu memastikan keekonomian proyek dari sisi pengembangan hulu hingga pembangkitan listrik. Oleh karena itu, perusahaan mengembangkan bisnis panas bumi secara terintegrasi, mulai dari eksplorasi dan produksi uap hingga pembangkitan listrik.
Pendapatan dari Energi Listrik
Dia menekankan bahwa pendapatan perusahaan tidak hanya dihitung dari volume uap yang dihasilkan, tetapi juga dari uap yang berhasil dikonversi menjadi listrik. Keandalan pembangkit dan pemeliharaan fasilitas pun menjadi bagian penting dalam menjaga keekonomian bisnis.
PGE memiliki potensi panas bumi yang besar dan berkomitmen untuk meningkatkan perannya dalam penyediaan energi terbarukan di Indonesia.











