Media Kampung – Rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengeluarkan seluruh saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, atau High Shareholding Concentration (HSC), dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai sebagai langkah positif. Menurut Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, kebijakan ini merupakan bagian dari pembenahan struktural pasar modal Indonesia, terutama untuk meningkatkan transparansi serta memastikan bahwa IHSG lebih mencerminkan kondisi pasar yang representatif.

“Langkah ini juga relevan di tengah sorotan MSCI terhadap aspek investabilitas, transparansi kepemilikan saham, dan ketersediaan saham yang benar-benar dapat diperdagangkan oleh investor publik,” kata Nafan.

Namun, ia juga menegaskan bahwa pengeluaran saham HSC dari perhitungan IHSG tidak serta merta membuat harga saham menjadi lebih wajar. Kewajaran harga tetap bergantung pada mekanisme penawaran dan permintaan, likuiditas, keterbukaan informasi, serta efektivitas pengawasan dan penegakan aturan.

“Oleh karena itu, kebijakan ini perlu diiringi dengan peningkatan free float, transparansi pemegang saham, dan pengawasan terhadap potensi manipulasi pasar,” ujarnya.

Dari sisi risiko, Nafan memperkirakan kebijakan ini berpotensi meningkatkan volatilitas dalam jangka pendek. Investor perlu menyesuaikan ekspektasi dan strategi investasinya terhadap metodologi indeks yang baru.

Terkait dengan peluang Indonesia mempertahankan status sebagai emerging market, Nafan menilai kebijakan tersebut bisa menjadi sinyal positif bagi MSCI bahwa otoritas pasar modal serius menjalankan reformasi. “Jika reformasi dijalankan secara konsisten dan memenuhi ekspektasi MSCI, peluang Indonesia untuk mempertahankan status emerging market dapat meningkat, meskipun keputusan akhirnya tetap berada di tangan MSCI,” lanjutnya.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai keputusan BEI sudah tepat, tetapi belum cukup untuk membenahi persoalan mendasar pasar modal. Menurut Hendra, pengeluaran saham HSC berpotensi membuat IHSG lebih mencerminkan saham-saham yang likuid dan memiliki kepemilikan lebih tersebar.

“Perubahan ini hanya memutus penularannya ke papan skor IHSG. Penyakitnya sendiri, yakni kepemilikan yang terkonsentrasi dan dugaan perdagangan terkoordinasi, baru terobati bila ditopang penegakan hukum yang tegas dan aturan free float yang lebih ketat,” ujar Hendra.

Ia menambahkan bahwa ada risiko perbaikan yang hanya terlihat pada pergerakan indeks, sementara persoalan mendasar di pasar tidak mengalami perubahan.