Media Kampung – Perekonomian Asia Timur dan Pasifik saat ini tengah dipengaruhi oleh dua tren besar global: lonjakan aktivitas kecerdasan buatan (AI) dan tingginya harga energi. Menurut Bank Dunia, dampak dari kedua tren ini berbeda-beda bagi setiap negara, tergantung pada seberapa terintegrasi mereka dalam rantai pasok AI serta ketergantungan terhadap energi.

Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia, Franziska Ohnsorge, menjelaskan bahwa lonjakan aktivitas AI telah mendorong pertumbuhan di negara-negara yang terhubung dengan rantai pasok produk terkait AI. Sebaliknya, harga energi yang tinggi menjadi tekanan bagi sejumlah negara di kawasan tersebut. “Perekonomian global secara lebih luas sedang dibentuk oleh dua tren besar ini, yaitu lonjakan aktivitas AI dan energi yang mahal,” ujar Franziska dalam pemaparan Bank Dunia.

Dampak terhadap Negara-Negara di Asia Timur

Sektor elektronik di Asia Timur memainkan peran penting dalam rantai pasok produk terkait AI. Negara-negara yang memiliki keterkaitan kuat dengan rantai pasok ini mendapatkan dorongan terhadap ekspor dan pertumbuhan ekonomi. Produk terkait AI bahkan menyumbang lebih dari setengah pertumbuhan ekspor di sejumlah negara Asia Timur. Di Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, produk terkait AI menyumbang lebih dari 70 persen pertumbuhan ekspor.

Bank Dunia memproyeksikan bahwa semakin terintegrasinya suatu negara dalam rantai pasok global produk terkait AI, semakin besar pula kenaikan proyeksi pertumbuhan ekspornya. Pertumbuhan kawasan diperkirakan mencapai 4,5 persen pada tahun 2026 dan 2027.

Tantangan bagi Negara yang Tidak Terintegrasi

Namun, tidak semua negara merasakan manfaat dari lonjakan AI. Negara-negara yang tidak banyak terintegrasi dalam rantai pasok AI, terutama negara-negara kepulauan di Pasifik, menghadapi kesulitan akibat tingginya harga energi. Franziska menyatakan bahwa harga energi menjadi salah satu faktor yang membentuk perbedaan prospek pertumbuhan antarnegara di kawasan ini. “Negara-negara yang tidak terlalu terintegrasi dalam rantai pasok ini sedang menghadapi kesulitan,” ungkapnya.

Inflasi dan Dampaknya

Tekanan harga energi juga terlihat pada inflasi. Meskipun dampaknya terhadap pertumbuhan kawasan tidak sebesar perkiraan sebelumnya, inflasi meningkat dengan cepat di Asia Timur dan Pasifik pada tahun 2026 dan diperkirakan akan tetap tinggi hingga tahun 2027. Filipina menjadi salah satu negara yang paling terdampak oleh kenaikan harga energi karena ketergantungan tinggi terhadap impor energi.

“Filipina adalah negara yang berbeda di Asia Timur. Negara tersebut lebih kesulitan menghadapi tingginya harga energi dibandingkan negara lain,” kata Franziska. Dengan demikian, tantangan yang dihadapi oleh negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik sangat dipengaruhi oleh keterkaitan mereka dengan teknologi AI serta ketergantungan pada energi.