Media Kampung, Jakarta – Aktivitas penghimpunan dana di pasar modal Indonesia mencatatkan angka yang signifikan, mencapai Rp 169,5 triliun hingga akhir September 2026. Hal ini disampaikan oleh Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, dalam sebuah konferensi di Main Hall BEI, Jakarta.
Menurut Hasan, jumlah tersebut merupakan hasil dari 148 emisi penawaran umum yang berhasil dilakukan di pasar modal. “Tercatat jumlah penawaran umum di pasar modal kita mencapai 148 emisi dengan nilai fundraising mencapai Rp 169,5 triliun,” ujarnya.
Hasan juga menambahkan bahwa minat perusahaan untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pembiayaan masih terlihat dari pipeline fundraising yang tersedia di OJK dan BEI. “Di dalam pipeline di tempat kami dan di tempat Pak Jeffrey di Bursa masih ada permintaan untuk fundraising sebesar Rp 27,61 triliun,” tambahnya.
Dari sisi investor, minat investasi, terutama dari investor ritel domestik, tetap terjaga sepanjang tahun ini. Jumlah investor pasar modal yang sebelumnya mencapai lebih dari 20 juta pada akhir 2025 kini telah meningkat menjadi 32,17 juta single investor identification (SID). “Setelah angka 20 juta dicapai di akhir tahun lalu, per hari ini angka investor kita sudah jauh meningkat di angka 32,17 juta SID atau investor di pasar modal,” lanjut dia. Dengan demikian, jumlah investor bertambah lebih dari 12 juta dalam setahun, yang secara persentase menunjukkan peningkatan sebesar 57,96 persen.
Di sektor keuangan derivatif, terdapat 113 pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip dari OJK. Sementara itu, volume transaksi sepanjang tahun ini tercatat mencapai 379.443 lot. Untuk bursa karbon, sebanyak 160 pengguna jasa telah terdaftar dengan volume transaksinya mencapai 1,98 juta ton CO2 ekuivalen, dengan akumulasi nilai transaksi sebesar Rp 93,97 miliar.














