Media Kampung – Palembang, Sumselupdate.com – Jarak pandang di Palembang, Sumatera Selatan, yang sebelumnya sempat hanya sekitar 25 meter, dilaporkan meningkat menjadi kurang lebih 2 kilometer setelah pelaksanaan dua sortie penyemaian dry ice pada Kamis, 15 Oktober 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel mencatat perbaikan jarak pandang tersebut diikuti penurunan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
Namun, pemerintah masih mengevaluasi efektivitas penyemaian dry ice untuk mengurangi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, M Iqbal Alisyahbana, mengatakan bahwa peningkatan jarak pandang menjadi salah satu perkembangan yang dipantau dalam uji coba teknologi tersebut. “Jarak pandang kemarin sempat 25 meter. Setelah dilaksanakan dua sortie, jarak pandang mengalami peningkatan menjadi kurang lebih 2.000 meter. Jadi, dry ice ini menjadi salah satu indikator keberhasilan,” ujar Iqbal pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Meski demikian, peningkatan jarak pandang tersebut belum dapat sepenuhnya dikaitkan dengan penyemaian dry ice. Kajian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan pengaruh metode tersebut terhadap kondisi atmosfer dan penurunan kabut asap.
Total 2,4 Ton Dry Ice Telah Disemai
Hingga Jumat, 16 Oktober 2026, sebanyak tiga sortie penyemaian dry ice telah dilakukan di wilayah Palembang. Dua sortie dilaksanakan pada Kamis, sedangkan satu sortie berikutnya dilakukan pada Jumat sekitar pukul 10.00 WIB. Dalam setiap penerbangan, pesawat membawa sekitar 800 kilogram dry ice. Dengan demikian, total bahan yang telah disemai mencapai 2,4 ton.
Iqbal menambahkan bahwa BPBD Sumsel berharap penyemaian tambahan dapat dilakukan untuk memantau perkembangan kondisi atmosfer dan kualitas udara di Palembang. “Setiap sortie ada 800 kilogram. Kemarin dua sortie dan hari ini baru satu sortie, tadi pukul 10.00 WIB. Mudah-mudahan bisa satu sortie lagi hari ini,” katanya.
Evaluasi Bersama Lembaga Terkait
Evaluasi dilakukan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta Kementerian Kehutanan. Kajian tersebut mencakup efektivitas penyemaian, durasi dampaknya terhadap kondisi atmosfer, serta kebutuhan bahan yang digunakan dalam setiap penerbangan. Pemerintah juga ingin mengetahui apakah jumlah dry ice yang digunakan sudah memadai untuk membantu mengurangi kabut asap di wilayah terdampak.
“Ini masih akan dikaji terkait efektivitasnya berapa lama usai disemai. Harapan kita terjadi perbedaan suhu antara siang dan malam, mungkin jadi salah satu indikator kenapa ketika malam ada penurunan kembali kabut asap. Ini yang akan kita lakukan evaluasi terus-menerus,” jelasnya.
Diharapkan Dukung Pemadaman Karhutla dari Udara
Pesawat yang digunakan untuk penyemaian dry ice saat ini masih diberangkatkan dari Lampung. Upaya tersebut diharapkan membantu memperbaiki kondisi atmosfer dan meningkatkan jarak pandang sehingga penanganan karhutla melalui udara dapat berlangsung lebih optimal. Perbaikan jarak pandang juga diharapkan dapat mendukung upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan secara efektif.













