Media Kampung, Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia memberikan dampak serius, menyebabkan Malaysia mengambil tindakan untuk meliburkan sekolah-sekolah di Ibu Kota, termasuk Kuala Lumpur, pada Jumat (9/10/2026). Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap memburuknya kualitas udara akibat kabut asap yang melanda wilayah tersebut.

Menteri Pendidikan Malaysia, Fadhlina Sidek, menyatakan bahwa seluruh dinas pendidikan negara bagian dan kantor pendidikan tingkat distrik telah diarahkan untuk memantau situasi kabut asap dan mengambil tindakan jika kondisi memaksa. Dalam pernyataannya, ia juga menyadari bahwa penutupan sekolah akan memengaruhi aktivitas sehari-hari orang tua dan menjanjikan untuk memberikan informasi lebih awal mengenai keputusan tersebut.

Selama pekan ini, kualitas udara di Kuala Lumpur telah berada pada level yang tidak sehat. Lembaga pemantau kualitas udara, IQAir, menempatkan Kuala Lumpur di antara kota-kota dengan tingkat polusi tertinggi di dunia. Pada hari Jumat, angka Indeks Pencemar Udara (API) di Kuala Lumpur tercatat sekitar 170, yang menunjukkan bahwa kondisi udara sangat tidak sehat.

Raja Malaysia, Sultan Ibrahim, juga menyatakan bahwa sekolah-sekolah harus diliburkan jika angka kualitas udara mencapai 150 atau lebih. Berdasarkan pedoman yang ada, angka API di atas 200 sudah dikategorikan sebagai “sangat tidak sehat”, sementara angka di atas 300 dianggap “berbahaya”.

Kondisi ini juga dirasakan di negara tetangga, Singapura, di mana kabut asap dari Indonesia masih mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat. Warga mengeluhkan dampak kesehatan, termasuk sesak napas dan penurunan jarak pandang.

Di tengah situasi ini, Pertamina di Palembang, Indonesia, telah membagikan 10.000 masker kepada masyarakat untuk membantu mereka melindungi diri dari dampak kabut asap. Pembagian masker dilakukan di beberapa lokasi strategis untuk mendukung kesehatan masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan.

Melihat situasi ini, beberapa pihak berwenang di Indonesia dan Malaysia terus berkoordinasi untuk menangani masalah karhutla dan dampaknya, serta berupaya untuk mencegah terulangnya kondisi serupa di masa depan.