Media Kampung – Pada Selasa 28 April 2026, dua bus yang mengangkut jemaah haji Indonesia mengalami tabrakan di kawasan Jabal Magnet, sekitar 60 km sebelah utara Madinah, menimbulkan lima luka-luka pada rombongan Probolinggo. Bus SUB-2 milik KBIHU Nurul Haramain Probolinggo menabrak bagian belakang bus JKS-1 yang membawa jemaah Bekasi, sehingga terjadi benturan keras di jalur operasional.
Kecelakaan terjadi sekitar pukul 10.30 waktu setempat, saat kedua bus sedang melaju dalam rangka city tour ke Jabal Magnet, sebuah lokasi wisata yang terkenal dengan fenomena kendaraan meluncur naik otomatis. Dari total sepuluh korban, tujuh merupakan jemaah Bekasi, dua jemaah Probolinggo, dan satu pengurus KBIHU Nurul Haramain yang membutuhkan perawatan medis ringan.
Satu jemaah asal Probolinggo, Sri Sugihartini berusia 60 tahun, masih dirawat secara intensif di Rumah Sakit Al‑Hayat Madinah karena luka-lukanya tergolong serius. Sembilan jemaah lainnya telah dipulangkan ke hotel masing‑masing setelah menerima perawatan awal, dan sebagian besar sudah kembali ke pondok bimbingan untuk melanjutkan ibadah.
Moh. Hasan Afandi, Kepala Biro Humas Kemenhaj RI, menyatakan bahwa keselamatan jemaah menjadi prioritas utama dan menegaskan akan diberikan sanksi administratif kepada penyelenggara bimbingan yang terbukti lalai. Ia menambahkan bahwa pihak Kemenhaj tengah melakukan investigasi mendalam untuk mengidentifikasi penyebab teknis maupun operasional yang memicu tabrakan.
Heni Hamidah, Plt Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, mengonfirmasi bahwa sembilan jemaah yang terluka telah kembali ke hotel Andalus Garden, sementara Sri Sugihartini masih berada di rumah sakit. Ia menegaskan KJRI Jeddah akan terus memantau kondisi medis jemaah hingga pulih sepenuhnya.
Mustolih Siradj, Ketua Komnas Haji, menuntut evaluasi menyeluruh dari Kemenhaj terkait prosedur keamanan pada kegiatan wisata selama masa tunggu haji. Ia menekankan bahwa waktu menunggu seharusnya difokuskan pada persiapan ibadah, bukan pada aktivitas wisata yang berisiko.
Jabal Magnet, yang dikenal dengan fenomena magnetik atau ilusi gravitasi, menjadi tujuan populer bagi jemaah haji dalam city tour, namun ahli geologi memperingatkan bahwa medan geografis yang tidak rata dapat menambah bahaya bila kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi. Pemerintah Arab Saudi dan otoritas setempat diharapkan meningkatkan pengawasan pada rute wisata tersebut.
Hingga akhir hari Rabu 29 April 2026, Kemenhaj dan Kemlu masih memantau perkembangan medis Sri Sugihartini, sambil menyiapkan rekomendasi kebijakan untuk memperketat koordinasi antara KBIHU, otoritas transportasi, dan pihak keamanan. Semua pihak berjanji untuk meningkatkan standar keselamatan guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Secara keseluruhan, operasi haji tahun 2026 tetap berjalan sesuai jadwal dengan lebih dari 47.000 jemaah dari 122 kloter telah diberangkatkan. Meskipun insiden ini menimbulkan keprihatinan, otoritas menegaskan bahwa langkah-langkah perbaikan telah diimplementasikan untuk menjamin kelancaran ibadah haji selanjutnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan