Media Kampung – Pemerintah Indonesia, melalui Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa mereka membuka opsi pembatasan produksi smelter nikel yang menghasilkan produk setengah jadi, seperti feronikel, nickel pig iron (NPI), nickel matte, dan mixed hydroxide precipitate (MHP).

Keputusan ini diambil seiring dengan meningkatnya risiko over supply nikel di pasar global. Sebelumnya, moratorium smelter baru telah diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2025, dan kini pemerintah mempertimbangkan untuk tidak membiarkan smelter yang sudah beroperasi berproduksi penuh selama pasar masih dalam kondisi oversupply.

Bahlil menambahkan bahwa pemerintah juga tengah mengkaji kembali arah pengembangan industri nikel nasional. Dari semula hanya memperbesar kapasitas smelter, kini pemerintah ingin mengarahkan pengembangan industri yang menghasilkan produk hilir secara langsung. Dalam proses ini, pemerintah akan memilah industri mana yang akan dilanjutkan dan mana yang akan dimoratorium, dengan prioritas pada industri yang menghasilkan produk hilir.

Wacana kebijakan ini masih berupa opsi dan akan dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto. Bahlil juga menegaskan bahwa pemerintah tidak akan serta-merta memenuhi seluruh kebutuhan smelter selama pasar global masih oversupply.

Untuk tahun 2026, pemerintah memproyeksikan realisasi produksi bijih nikel akan mencapai 290 juta ton, yang lebih tinggi dibandingkan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang berkisar antara 260-270 juta ton. Namun, kebutuhan bijih smelter saat ini diperkirakan mencapai 320 juta ton. Kementerian ESDM menyatakan bahwa kekurangan pasokan bijih dapat teratasi dengan stok yang ada saat ini.

Dari sisi industri, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) juga tidak mendorong pelonggaran pasokan secara menyeluruh. Sekretaris Jenderal APNI, Meidy Katrin Lengkey, menyebut bahwa 79 smelter yang ada di Indonesia membutuhkan sekitar 415 juta ton bijih nikel per tahun jika beroperasi penuh. Ia menilai bahwa kekurangan pasokan bijih nikel tidak bisa diselesaikan dengan menaikkan RKAB secara keseluruhan, melainkan melalui persetujuan revisi RKAB yang berbasis aspek teknis.

Nikel sendiri menjadi komoditas logam utama dengan kinerja harga terburuk selama tahun 2026. Per Rabu (7/10), harga nikel di London Metal Exchange telah turun sebesar 6% year-to-date (YTD) menjadi US$15.735 per ton, lebih dalam dibandingkan penurunan harga emas yang sebesar 5% YTD. Sementara itu, harga aluminium, tembaga, dan timah justru mengalami kenaikan harga.

Menurut Shanghai Metals Market, pasar kini lebih mengkhawatirkan pelemahan permintaan nikel daripada pasokan bijih. Operasional smelter juga terganggu, dengan beberapa smelter di Indonesia Morowali memangkas produksi NPI karena gangguan pasokan air akibat kekeringan El Niño.