Media Kampung – Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, kembali memburuk akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan pantauan data pemantau kualitas udara IQAir, pada Kamis (22/10/2026) pagi, indeks kualitas udara dilaporkan mencapai angka 1.925 pada pukul 08.00 WIB. Ini menjadi angka tertinggi sejak kabut asap karhutla kembali mengganggu kualitas udara di kota ini.
Kondisi ini menunjukkan paparan asap yang semakin mengkhawatirkan, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan. Sejumlah wilayah di Palembang juga mencatat angka indeks kualitas udara yang sangat tinggi. Wilayah Musi 2 tercatat mencapai 1.697, disusul Demang Lebar Daun sebesar 1.362, dan Sukarami mencapai 1.256.
Penurunan kualitas udara ini terjadi setelah langit sempat terlihat lebih terang pada pukul 23.00 hingga 00.00 WIB berkat penggunaan dry ice oleh satuan tugas karhutla dalam operasi modifikasi cuaca (OMC). Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama, dan kabut asap kembali menebal sejak dini hari.
Data pemantauan menunjukkan bahwa angka indeks kualitas udara mulai meningkat pada pukul 03.00-04.00 WIB dengan nilai 441, yang terus melonjak hingga mencapai 1.625 pada pukul 06.00-07.00 WIB, sebelum menyentuh 1.925 pada pukul 08.00 WIB. Kabut asap yang semakin pekat ini tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat tetapi juga menyebabkan jarak pandang terbatas.
Buruknya kualitas udara menjadi perhatian serius karena berisiko memperburuk gangguan kesehatan, khususnya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan sebelumnya melaporkan bahwa Palembang menjadi daerah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi di Sumsel. Hingga 18 Oktober 2026, jumlah kasus ISPA di Palembang tercatat mencapai 8.204 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sumatera Selatan, Ira Primadesa, mengungkapkan bahwa Palembang menempati posisi teratas dalam jumlah kasus ISPA dibandingkan kabupaten dan kota lainnya di Sumsel. “Jumlah kasus terbanyak tercatat di Palembang mencapai 8.204 kasus,” ujarnya. Menurut data yang disampaikan, kasus ISPA tersebut mayoritas menyerang anak-anak, mulai dari kelompok usia di bawah dua tahun hingga anak usia sekolah, serta sejumlah warga lanjut usia juga dilaporkan mengalami penyakit tersebut.













