Media Kampung – Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan keprihatinan atas laporan mengenai lebih dari 70 ribu balita yang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Dalam keterangan tertulisnya, Puan menekankan pentingnya perlindungan anak dari berbagai dampak Karhutla, terutama masalah kesehatan.
“Bagi orang tua, anak yang mengalami gangguan kesehatan, termasuk masalah pernapasan, menghadirkan kecemasan yang sangat dekat dan mendesak,” ujar Puan di Jakarta.
Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan per 17 Oktober 2026, jumlah penderita ISPA di tujuh provinsi terdampak Karhutla mencapai 311.363 kasus, di mana 70.239 kasus di antaranya adalah anak di bawah lima tahun.
Puan mengingatkan pemerintah agar segera menyelesaikan persoalan Karhutla, mengingat dampaknya yang cukup signifikan. “Pemerintah perlu menjawab keadaan tersebut dengan keputusan yang memberi kepastian bahwa keselamatan anak mendapat perhatian penuh dan dukungan tersedia selama dibutuhkan,” tambahnya.
Dia berharap agar setiap orang tua dapat melihat anak-anak mereka menjalankan aktivitas dengan nyaman, tidur tenang, dan kembali bermain. Harapan sederhana ini seharusnya menjadi perhatian utama dalam menentukan langkah penanganan.
Puan juga menyoroti banyaknya laporan dari masyarakat di daerah terdampak Karhutla mengenai kondisi kesehatan anak-anak yang terpengaruh kabut asap. “Perlindungan anak dari kabut asap yang ditimbulkan Karhutla harus menjadi komitmen nasional,” tegasnya.
Lebih lanjut, Puan menilai keputusan mengenai prioritas wilayah dan penggunaan sumber daya perlu mempertimbangkan beratnya beban yang dihadapi keluarga di daerah terdampak, terutama bagi mereka yang memiliki kemampuan perlindungan yang terbatas.
Dia menekankan bahwa laporan kasus pada balita yang cukup banyak perlu diikuti dengan komitmen berkelanjutan hingga masa pemulihan. Dukungan dari pemerintah pusat dan daerah harus dijaga agar kebutuhan anak tetap mendapat perhatian bahkan ketika keadaan udara mulai membaik.
Besarnya dampak Karhutla terhadap anak juga menimbulkan kekhawatiran dari berbagai pihak, termasuk Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) yang mengkhawatirkan potensi lost generation akibat ancaman terhadap kesehatan dan pertumbuhan anak.
Data dalam laporan Karhutla 2026 menunjukkan bahwa bencana Karhutla pada 1997 menyebabkan janin dan anak yang terpapar asap tumbuh 3,3 cm lebih pendek atau mengalami stunting di usia 17 tahun.













