Media Kampung – Bank Indonesia pada Rabu, 21 Oktober 2026, mempertahankan suku bunga BI Rate di level 5,75. Keputusan ini diambil di tengah ekspektasi konsensus yang terbagi antara menahan suku bunga atau menaikannya sebesar 25 basis poin menjadi 6. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyatakan bahwa keputusan ini didasarkan pada penilaian bahwa kenaikan suku bunga kumulatif sebesar 100 basis poin pada Mei-Juni 2026 sudah cukup untuk menjaga ekspektasi inflasi dalam target 1,5-3,5.
Strategi Insentif Hedging
Destry menjelaskan bahwa langkah yang diambil saat ini berfokus pada kebijakan yang lebih ditargetkan untuk mendorong inflow melalui peningkatan insentif hedging. Bank Indonesia mengumumkan kenaikan diskon premi DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) untuk lindung nilai, dari 25 menjadi 40 untuk tenor 6 bulan, dan dari 30 menjadi 45 untuk tenor 12 bulan. Selain itu, diskon premi swap lindung nilai juga dilanjutkan sebesar 15-25 untuk tenor 3-12 bulan.
Aliran Modal Asing dan Likuiditas Perbankan
Kebijakan insentif hedging ini telah berhasil menarik aliran modal asing sebesar USD 9,9 miliar sejak Juni 2026. Di samping itu, Bank Indonesia berupaya menjaga kecukupan likuiditas perbankan, terutama di tengah pertumbuhan kredit yang mencapai 13,26% YoY per September 2026, yang jauh melampaui pertumbuhan DPK (Dana Pihak Ketiga) sebesar 8,22% YoY. Sebagai langkah, Bank Indonesia merencanakan penurunan giro wajib minimum (GWM) secara bertahap. GWM bank konvensional akan diturunkan dari 9% menjadi 8% pada 1 November 2026 dan menjadi 7% pada 1 Desember 2026. Sedangkan untuk bank syariah, penurunan dari 7,5% menjadi 6,5% pada 1 November 2026 dan menjadi 5,5% pada 1 Desember 2026.
Proyeksi Defisit Transaksi Berjalan
Bank Indonesia juga mencatat tantangan eksternal yang semakin besar, dengan revisi proyeksi defisit transaksi berjalan (current account) selama 2026 menjadi kisaran 1,6-2,4% terhadap PDB, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya yang berada di 0,5-1,3% terhadap PDB. Pelebaran defisit ini dipengaruhi oleh harga minyak global yang masih tinggi akibat konflik di Timur Tengah.
Pandangan ke Depan
Keputusan Bank Indonesia ini juga diperkirakan dipengaruhi oleh prospek The Fed yang masih akan menahan suku bunganya pada pertemuan mendatang. Berdasarkan analisis dari CME FedWatch Tool, probabilitas The Fed untuk mempertahankan suku bunga AS pada pertemuan Oktober 2026 berada di level 85%, meningkat dibandingkan 67% pada sepekan sebelumnya. Saat ini, The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember 2026.
Investor diharapkan memantau keefektifan kebijakan Bank Indonesia ini, terutama terkait kestabilan nilai tukar rupiah yang ditutup relatif flat di level Rp18.005 terhadap dolar AS setelah pengumuman ini.













