Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan yang signifikan dalam beberapa hari terakhir. Pada pembukaan perdagangan Senin, 19 Oktober 2026, IHSG dibuka di level 4.961,88, turun 4,31 poin. Sebelumnya, pada Jumat, 16 Oktober, IHSG ditutup pada level 5.185,11 setelah terjun 678,67 poin atau 11,57%. Penurunan ini juga diwarnai dengan trading halt akibat anjloknya IHSG.
Menurut M. Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analyst di Mirae Asset Sekuritas Indonesia, indikator teknikal menunjukkan momentum negatif meskipun volume perdagangan meningkat. Ia memperkirakan IHSG akan terus bergerak volatil dengan kecenderungan tertekan, terutama karena sentimen negatif dari MSCI yang mengusulkan reklasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Ketidakpastian yang dihadapi pasar ini berpotensi memicu aksi jual lebih lanjut, terutama dari investor asing dan institusi yang peka terhadap perubahan klasifikasi indeks global. Namun, pada Selasa, 20 Oktober, IHSG menunjukkan sedikit perbaikan dengan penguatan 4,18% ke level 5.201,4 pada penutupan sesi I, yang dianggap sebagai sinyal awal positif bagi pasar.
Elandry Pratama, analis dan Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, menyatakan bahwa penguatan IHSG menandakan respons positif dari pelaku pasar terhadap langkah Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, ia juga menekankan bahwa kenaikan ini mungkin dipengaruhi oleh aksi beli kembali pada saham-saham besar setelah mengalami tekanan yang cukup berat dalam beberapa hari terakhir.
Dengan kondisi IHSG yang bergejolak, pertanyaan yang muncul adalah: Apakah kamu masih berani berinvestasi saham? Sampaikan jawaban kamu dalam polling di bawah ini dan bagikan pengalaman kamu di kolom komentar.













