Media Kampung – Palembang, Sumatera Selatan – Upaya penanganan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan terus dilakukan melalui pemanfaatan teknologi dry ice. Memasuki hari ketiga pelaksanaan, jarak pandang dilaporkan meningkat hingga 6.000 meter atau 6 kilometer.
Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menyatakan bahwa penerapan teknologi tersebut dilakukan selama tiga hari berturut-turut dengan penggunaan sekitar 1,5 ton bahan setiap hari dan melibatkan dua pesawat. Menurutnya, perkembangan jarak pandang menjadi salah satu indikator yang terus dipantau dalam upaya penanganan kabut asap yang masih berdampak pada sejumlah wilayah di Sumatera Selatan.
“Alhamdulillah, hari ini jarak pandang bertambah menjadi 6.000 meter. Teknologi dry ice ini sudah memasuki hari ketiga, setiap hari menggunakan 1,5 ton dengan dua pesawat. Koordinasi terus kami lakukan bersama Menteri, BMKG, dan BNPB,” ujar Herman Deru.
Koordinasi Lintas Kementerian
Herman Deru menjelaskan, koordinasi lintas kementerian dan lembaga diperlukan untuk mengoptimalkan penanganan karhutla. Langkah tersebut dilakukan melalui pemadaman di lapangan serta pemanfaatan teknologi untuk membantu mengatasi dampak kabut asap.
Dalam kesempatan itu, Herman Deru mendampingi Kepala BNPB yang berkunjung ke Sumatera Selatan untuk meninjau langsung penanganan karhutla sekaligus mengevaluasi kebutuhan daerah dan dukungan pemerintah pusat.
Evaluasi Efektivitas Teknologi Dry Ice
Kepala BNPB, Letjen TNI Kristomei Sianturi, mengatakan bahwa kunjungan tersebut bertujuan untuk melihat langsung pelaksanaan penanggulangan karhutla sekaligus menyelaraskan langkah pemerintah pusat dan daerah. Menurutnya, koordinasi diperlukan agar upaya yang dilakukan Satuan Tugas (Satgas) Karhutla berjalan lebih efektif, cepat, dan tepat sasaran.
“Kita sudah berkoordinasi. Tinggal bagaimana kita mengefektifkan upaya yang dilakukan Satgas Karhutla agar benar-benar efektif, cepat, dan tepat,” ujarnya.
Kristomei menambahkan, sesuai arahan Presiden, efektivitas penggunaan teknologi dry ice dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menjadi perhatian dalam evaluasi penanganan karhutla. Evaluasi tersebut dilakukan untuk menilai sejauh mana kedua metode itu membantu penanggulangan kebakaran, sekaligus mempertimbangkan kemungkinan penerapannya di wilayah lain di Indonesia.
“Kalau teknologi ini dianggap bagus, tidak terlalu banyak memakan biaya, dan bisa diaplikasikan di seluruh wilayah Indonesia, mengapa tidak? Kita akan terus melakukan upaya ini seefektif mungkin,” katanya.
Prioritas Penanganan Karhutla
Dalam keterangannya, Kristomei menyebut Kalimantan Tengah berada di urutan pertama wilayah yang menjadi perhatian dalam penanganan karhutla berdasarkan data yang dimiliki BNPB. Sumatera Selatan berada dalam daftar prioritas berikutnya.












