Media Kampung, Kalimantan Selatan – Panas dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat bekantan (Nasalis larvatus), primata endemik Kalimantan, menghadapi ancaman terhadap habitat dan sumber pakan alaminya.
Di Kalimantan Selatan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat 2.332 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak mencapai 12.339,74 hektare sepanjang Januari hingga 1 September 2026. Sementara itu, Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) mencatat 17.093 titik panas di wilayah tersebut.
Untuk mengantisipasi ancaman kebakaran, Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia memperketat patroli, memeriksa kondisi lingkungan, dan memasang kamera jebak guna memantau keberadaan satwa. Di tengah hutan yang mengering dan asap yang menyelimuti, bekantan harus terus bertahan di ruang hidup yang kian tertekan.
Seekor bekantan (Nasalis larvatus) memakan pucuk daun di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.













