Media Kampung, Candi Borobudur – Pemugaran Yasti Mahastupa Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, ditargetkan rampung pada 24 Oktober 2026. Proyek ini didanai melalui donasi umat Buddha dan tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan bahwa pemugaran dilakukan setelah ditemukan pergeseran susunan batu, rongga, dan rekahan di bagian puncak candi. Dalam Taklimat Media Pemugaran Stupa Borobudur dan Peresmian Galeri Prajnaparamita di Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Fadli menjelaskan, “Donaturnya dari umat Buddha. Seperti yang saya bilang, bukan dari APBN, kita kan membuka skema ini, partisipasi publik.”

Kerusakan Yasti teridentifikasi melalui pemantauan dan kajian teknis pada 2026. Pemugaran dilakukan untuk memulihkan kestabilan struktur, terutama karena Yasti berada di bagian tertinggi candi dan berisiko terdampak gempa bumi. “Ada pula risiko abu vulkanik dan pergeseran lainnya yang bisa mengakibatkan kerusakan, bahkan berpotensi menimbulkan korban, misalnya pengunjung yang berada di sekitar lokasi. Apalagi, Yasti berada di posisi puncak,” terang Fadli.

Fadli menjelaskan bahwa pemugaran menggunakan material asli yang sudah ada. Setiap batu yang ditangani didokumentasikan dan diberi nomor agar dapat dikembalikan ke posisi semula. “Sejauh ini, tidak ada material baru yang digunakan dan tidak ada pembongkaran secara menyeluruh,” ujarnya.

Perbaikan hanya difokuskan pada bagian Yasti yang membutuhkan penanganan, sedangkan bagian lainnya menjalani konservasi. Fadli menekankan bahwa pekerjaan ini penting karena bagian Mahastupa belum pernah diperbaiki sejak pemugaran yang dilakukan arsitek Belanda, Theodoor van Erp, pada 1907-1911.

Selama pengerjaan, pengunjung reguler dan peserta program ziarah masih dapat mengakses hingga tingkat delapan, sementara pengunjung program matahari terbit dan terbenam tetap dapat mengakses hingga lantai sembilan. Namun, pelataran utara ditutup sementara karena termasuk zona kerja pemugaran.

Selain pemugaran Yasti, Fadli menyoroti perubahan iklim sebagai tantangan dalam menjaga kelestarian Candi Borobudur. Paparan hujan dan panas, polusi kimia, serta pertumbuhan lumut dapat mempercepat pelapukan batu dan mengikis detail relief candi.

Pemerintah berencana mendiskusikan upaya pelestarian relief bersama para ahli dari berbagai bidang, termasuk arkeologi, arsitektur, dan kimia. Salah satu teknologi yang sedang diuji adalah water repellent, bahan yang membantu mencegah air terserap ke dalam pori-pori batu.

Fadli juga mengingatkan pentingnya edukasi kepada pengunjung untuk mencegah kerusakan akibat aktivitas manusia, seperti menyentuh relief atau menumpahkan cairan pada struktur candi. “Kalau manusia ya, misalnya vandalisme, kita bisa edukasi para pengunjung. Memang kita harapkan para pengunjung itu tidak megang-megang atau tidak menumpahkan cairan,” jelasnya.

Di sisi lain, pemerintah berencana memasang Catra di puncak Candi Borobudur sebagai bagian dari upaya menjadikan situs tersebut sebagai living heritage atau warisan budaya yang tetap digunakan untuk kegiatan keagamaan. Fadli mengatakan, rencana pemasangan Catra masih dikomunikasikan dengan UNESCO.