Media Kampung, Surabaya – Pameran lukisan Spirit 81 Tahun Jawa Timur digelar di Gedung DPRD Provinsi Jawa Timur. Kegiatan ini menjadi panggung penting yang mempertemukan seni rupa, kebudayaan, serta refleksi kritis masyarakat modern. Di antara deretan karya estetis yang dipajang, pameran ini menghadirkan beragam karya peninggalan ideologis yang mengajak pengunjung tidak hanya menikmati keindahan visual, tetapi juga membaca realitas sosial yang sedang berlangsung saat ini.
Salah satu lukisan yang paling banyak mencuri perhatian publik adalah karya seniman Webech Mituhu yang berjudul Ki Dalang Andro. Melalui sentuhan kuasnya, ia menyuguhkan gubahan visual yang memicu perenungan mendalam mengenai pergeseran hubungan mendasar antara manusia dengan teknologi sistem operasi Android yang kini telah menyusup ke setiap celah kehidupan sehari-hari.
Dalam percakapan dan wawancara khusus yang dilakukan di lokasi pameran pada Senin, 12 Oktober 2026, Webech Mituhu mengungkapkan alasan di balik penciptaan karya eksperimental tersebut. Ia menyoroti fenomena sosial di mana teknologi tak lagi sekadar alat bantu komunikasi biasa, melainkan telah menjelma menjadi sebuah kekuatan laten yang mengatur irama kehidupan.
“Dalam tradisi pewayangan Jawa, dalang adalah pemegang kendali utama yang menggerakkan tokoh, menentukan lakon, dan mengarahkan cerita. Namun di era digital sekarang, pertanyaannya balik ke kita apakah kita yang memegang kendali atas perangkat di genggaman, atau justru algoritma di balik layar Android itu yang sedang mendalang arus informasi dan mengendalikan cara kita berpikir serta bertindak,” ujar Webech Mituhu saat diwawancarai.
Metaphor Ki Dalang Andro pada lukisan tersebut menggambarkan benturan simbolis yang tajam antara tradisi pewayangan yang bernilai filosofis tinggi dengan serbuan arus utama teknologi digital. Kehadiran istilah Android dalam judul karya membawa penonton pada kesadaran baru bahwa peranti genggam kini sering kali menjadi pusat perhatian, penentu keputusan, hingga pembentuk persepsi publik secara masif.
Lebih jauh, karya ini menyelami ranah psikologi sosial masyarakat modern yang kerap terjebak dalam ilusi kendali (illusion of control). Pengguna gawai merasa memiliki kebebasan penuh saat menggeser layar smartphonenya, padahal di balik layar kaca tersebut terdapat rentetan algoritma responsif, rekomendasi konten, dan dorongan interaksi konstan yang secara halus mendikte habituasi, kepercayaan, hingga pola perilaku mereka sehari-hari.
Sisi kritik sosial yang diusung Webech bukanlah bentuk penolakan mentah-mentah atau perlawanan anti-teknologi ala Luddite. Sebaliknya, pameran ini memanfaatkan seni rupa sebagai ruang refleksi bersama agar manusia kembali memposisikan teknologi secara proporsional sebagai media atau alat bantu, bukan entitas dominan yang mengikis nalar kritis dan independensi berpikir.
Momentum peringatan 81 tahun Jawa Timur yang menjadi latar belakang pameran ini pun makin mempertegas pesan kebudayaan yang ingin disampaikan kepada masyarakat luas. Karya ini melontarkan pertanyaan mendasar yang melampaui sekat-sekat seni murni bagaimana masyarakat Jawa Timur dapat melangkah maju dan adaptif menyambut era modernisasi tanpa harus kehilangan akar budaya, kebebasan personal, dan nilai-nilai kemanusiaannya.
Lukisan Ki Dalang Andro pun berdiri sebagai pengingat kuat bahwa kemajuan peradaban dan keanggitan teknologi harus berbanding lurus dengan kematangan kesadaran manusia. Seberapa canggih pun sistem dan perangkat yang berhasil diciptakan oleh jemari manusia, manusia itu sendiri yang harus memegang kendali atas arah hidupnya agar tidak berujung menjadi penonton atau pengikut pasif dari sistem yang dibuatnya sendiri.














