Media Kampung – Keberanian seorang WNI bernama Fiki Mutakin (25) yang menjadi korban pembajakan kapal MT Honour 25 di Somalia mencuri perhatian. Dalam peristiwa yang menegangkan ini, Fiki mengalami situasi mengerikan ketika ia ditembak oleh para pembajak.
Duta Besar RI untuk Kenya, Tyas Baskoro Her Witjaksono Adji, menjelaskan bahwa Fiki sempat diikat oleh para pembajak dengan niatan untuk dieksekusi. Namun, setelah salah satu pembajak memintanya untuk menurunkan sekoci dan mengoperasikan crane, tali yang mengikatnya dilepas. Saat menjalankan perintah tersebut, Fiki berada di tengah perselisihan antara para pembajak.
“Ada bagian pembajak yang menyuruh dia menurunkan sekoci, tapi ada bagian lain yang melarangnya untuk kabur,” ungkap Witjaksono. Fiki ditembak dua kali, namun beruntung tidak mengenai bagian vital. Setelah ditembak, ia berpura-pura mati agar tidak menjadi sasaran tembak lagi. “Dia berpura-pura mati, tidak bergerak, diam saja,” lanjutnya.
Situasi ini mengundang simpati dari salah satu pembajak yang melihat Fiki terluka. Pembajak tersebut bahkan menutupi tubuh Fiki dengan selimut agar terlihat seolah-olah sudah meninggal, sehingga pembajak lain tidak lagi memburunya.
Setelah operasi pembebasan yang dilakukan oleh pemerintah Puntland, Fiki dan beberapa awak kapal lainnya yang terluka dievakuasi ke rumah sakit di Garowe, ibukota Puntland. Meskipun fasilitasnya sederhana, Fiki mendapatkan perawatan yang serius.
Fiki dan tiga WNI lainnya yang sehat, yaitu Kapten Azhari Samadikun (34), Wahudinanto (48), dan Adi Faizal (27), berhasil dibebaskan pada 29 September 2026 setelah disandera selama lebih dari lima bulan.
Dalam insiden ini, lima awak kapal tewas, termasuk tiga warga negara Pakistan, satu warga India, dan satu warga Myanmar. Berita mengenai kondisi para ABK sempat berubah-ubah setelah operasi pembebasan, namun akhirnya semua ABK Indonesia dinyatakan selamat meskipun satu orang mengalami luka tembak.
Witjaksono menambahkan, sebelum operasi dilakukan, ia berulang kali mendesak pemerintah Puntland untuk memperhatikan kondisi para ABK MT Honour 25. “Saya dua kali berkunjung ke ibu kota Puntland, Garowe, untuk mendesak mereka memperhatikan kasus WNI kita,” jelasnya.
Dengan situasi yang sangat menegangkan dan berbahaya, keberanian Fiki dan dukungan dari beberapa pembajak yang simpatik menjadi bagian dari kisah heroik yang patut dicatat dalam sejarah.













