Media Kampung, Serang – Pada era 1950-an, ketika Indonesia baru saja berdiri di atas kakinya sendiri, kota-kota kecil di pedalaman Jawa masih berjuang melawan bayang-bayang kemiskinan dan keterbatasan fasilitas umum. Salah satunya adalah Serang, sebuah kota kabupaten kecil di Banten yang kala itu hanya berpenduduk sekitar 45.000 jiwa. Di tengah keheningan kota yang dikelilingi hamparan sawah dan pohon kelapa tersebut, hadir seorang pria asing bertubuh tegap dari tanah Jerman. Dialah dr. H. J. Rathschek, seorang ahli bedah dan kebidanan asal kawasan Rhein yang memutuskan mengabdikan keahlian medisnya jauh dari kampung halamannya.

Ketika dr. Rathschek pertama kali menandatangani kontrak kerja dengan pemerintah Republik Indonesia pada awal dekade 1950-an, nama Serang hanyalah sebuah titik asing tak bertepi di atas peta dunianya. Namun, panggilan kemanusiaan membawanya melangkah ke ibu kota Banten tersebut pada tahun 1954 untuk memimpin pelayanan kesehatan setempat. Kedatangannya bertepatan dengan masa transisi yang sulit, di mana negara yang baru merdeka ini sedang mengalami krisis tenaga medis serta pergolakan politik dan keamanan di berbagai wilayah.

Langkah awalnya di Rumah Sakit Umum Serang disambut oleh realitas yang cukup memprihatinkan. Bangunan rumah sakit tempat ia akan bertugas merupakan peninggalan era kolonial Belanda yang didirikan sekitar 150 tahun sebelumnya dan sempat dijadikan penjara pada masa pendudukan Jepang. Kondisinya amat sederhana, hanya berkapasitas sekitar 45 tempat tidur dengan sebagian lantai yang masih beralaskan tikar. Di dalam ruang operasinya yang kosong, Dr. Rathschek hanya menemukan sebuah lemari instrumen kecil berisi beberapa alat bedah sederhana.

Namun, keterbatasan sarana tak sedikit pun meluruhkan tekad dokter lulusan Eropa ini untuk bekerja. Dengan kesabaran dan ketekunan penuh, Dr. Rathschek mulai menata kembali sistem pelayanan medis di rumah sakit tersebut. Perlahan tapi pasti, ia merenovasi serta memperluas kapasitas tempat tidur hingga mampu menampung sekitar 200 pasien. Fasilitas vital seperti ruang operasi yang memadai, laboratorium diagnosis, hingga peralatan sinar-X (rontgen) berhasil ia hadirkan demi menunjang pengobatan warga setempat.

Seiring berjalannya waktu, kepercayaan pemerintah daerah kepadanya kian menguat hingga ia diangkat menjadi Dokter Kabupaten (Chief Medical Officer) Serang. Tanggung jawabnya pun meluas melampaui dinding-dinding rumah sakit. Dr. Rathschek harus menyusuri jalan-jalan pedesaan yang berdebu dan berlubang untuk menginspeksi berbagai fasilitas kesehatan pembantu dan puskesmas yang tersebar di wilayah Banten, termasuk hingga ke kawasan Cilegon. Di lapangan, Rathschek berhadapan langsung dengan benteng persoalan kesehatan tropis yang cukup rumit, seperti penyakit-penyakit endemik yang mempengaruhi masyarakat.