Media Kampung – Diagnosis Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada anak tidak bisa dilakukan sembarangan. Banyak orang tua yang beranggapan bahwa perilaku anak yang sulit diam, sering berpindah aktivitas, atau banyak bicara merupakan indikasi ADHD. Namun, menurut psikolog klinis anak dan keluarga, Roslina Verauli, diagnosis ADHD perlu melalui penilaian yang komprehensif oleh profesional.

Roslina menjelaskan bahwa ciri utama ADHD adalah kesulitan mempertahankan perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas. Gejala ini harus terlihat dalam berbagai situasi dan berdampak pada fungsi akademik, sosial, dan kehidupan sehari-hari anak. Penilaian tidak hanya berdasarkan perilaku yang tampak, tetapi juga melibatkan riwayat perkembangan anak sejak periode perinatal hingga masa sekolah.

Pada usia 4 tahun, evaluasi klinis untuk ADHD sudah dapat dilakukan. Penilaian ini melibatkan laporan dari orang tua, guru, serta observasi klinis. Roslina menekankan bahwa orang tua tidak dapat mendiagnosis ADHD hanya berdasarkan tanda-tanda kecil yang ambigu. Oleh karena itu, penting untuk melibatkan ahli dalam proses diagnosis ini.

Beberapa penanda perkembangan yang dapat dilihat sejak awal kehidupan anak, seperti regulasi tidur, tingkat aktivitas, dan perkembangan motorik, tidak spesifik untuk ADHD. Sehingga, satu atau dua perilaku yang terlihat tidak cukup untuk menentukan adanya ADHD. Penilaian yang menyeluruh dan mendalam sangat dibutuhkan untuk memastikan diagnosis yang akurat dan pengelolaan yang tepat bagi anak-anak yang mengalami tantangan ini.