Media Kampung, Jember – Kemarau berkepanjangan yang melanda Kabupaten Jember mulai memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian. Keterbatasan pasokan air menyebabkan banyak tanaman, terutama jagung dan komoditas hortikultura seperti cabai dan tomat, mengalami kekurangan air. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya ketersediaan air dan sistem irigasi dalam menjaga produktivitas pertanian di daerah tersebut.
Ketua Asosiasi Petani Pangan Indonesia (APPI), Jumantoro, menyatakan, “Banyak tanaman jagung yang kekurangan air, sedangkan tanaman hortikultura seperti cabai juga mengalami kerusakan akibat kekeringan. Ini adalah bukti nyata bahwa kondisi irigasi sangat dibutuhkan dan sangat menentukan.”
Dalam dialog yang disiarkan di Hallo RRI Pro 1, Jumantoro menekankan pentingnya menjaga kawasan pertanian di sekitar aliran Sungai Bedadung. Ia mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk mempertahankan kawasan tersebut agar tidak beralih fungsi menjadi kawasan perumahan atau pergudangan, yang dapat berdampak pada ketahanan pangan di Jember.
Dampak kemarau juga mulai dirasakan di pasar, di mana ketersediaan dan harga sejumlah komoditas mengalami perubahan. Pasokan cabai dan tomat yang terbatas menyebabkan harga mengalami kenaikan, dengan harga cabai saat ini berada di kisaran Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram. Meskipun demikian, ketersediaan sayuran di Pasar Tanjung Jember masih dianggap relatif aman dan terkendali.
Kondisi kekeringan yang berlangsung juga berdampak pada ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Pemerintah Kabupaten Jember, melalui BPBD, masih aktif melakukan distribusi air bersih ke beberapa wilayah yang terkena dampak kekeringan. Menurut data dari BPS Kabupaten Jember, cabai dan tomat merupakan dua komoditas hortikultura yang diproduksi dalam jumlah besar di Jember, sehingga kondisi cuaca dan ketersediaan air sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan produksinya.















Tinggalkan Balasan