Media Kampung – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencatat penguatan signifikan dengan ditutup pada posisi Rp17.894 pada perdagangan Rabu, 1 Oktober 2026. Penguatan sebesar 87 poin atau 0,48 persen ini merupakan respons positif pasar atas intervensi agresif Bank Indonesia dan penurunan harga minyak dunia yang mendukung stabilitas mata uang domestik.

Intervensi Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia secara konsisten melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk mengendalikan volatilitas rupiah yang sempat menembus batas psikologis Rp18.000 per dolar AS. Menurut Muhammad Amru Syifa, periset dari Indonesia Commodity Derivatives Exchange (ICDX), BI tetap aktif melakukan intervensi spot sesuai kebutuhan pasar guna menjaga kestabilan nilai tukar.

Erwin G Hutapea, Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, menegaskan komitmen bank sentral untuk mempertahankan pertahanan rupiah, termasuk memanfaatkan berbagai instrumen pasar valas domestik seperti Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF).

Sentimen Global dan Dampak Penurunan Harga Minyak Dunia

Dukungan terhadap penguatan rupiah juga datang dari sentimen global yang mulai melunak. Pernyataan Presiden New York Fed, John Williams, yang menyatakan tidak ada urgensi menaikkan suku bunga AS dalam waktu dekat memberi ruang bagi stabilitas pasar.

Lebih signifikan, harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam setelah Arab Saudi melanjutkan ekspor minyak melalui jalur pipa Timur-Barat, sehingga mengurangi ketegangan logistik dan kekhawatiran pasokan energi. Data terakhir menunjukkan harga minyak Brent turun 2,8 persen menjadi 102,35 dolar AS per barel, sementara minyak WTI terkoreksi 3,8 persen ke level 89 dolar AS per barel.

Dampak Positif bagi Pasar Domestik dan Investor

Penguatan rupiah tidak hanya menjadi indikator fundamental pasar domestik yang kuat, tetapi juga meningkatkan daya tarik aset berbasis rupiah bagi investor. Kondisi ini mendorong Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) naik ke level Rp17.877 per dolar AS.

Kolaborasi antara intervensi BI yang tegas dan sentimen global yang membaik memberikan momentum positif bagi stabilitas ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian pasar global.

Dengan demikian, penguatan rupiah saat ini mencerminkan sinergi antara kebijakan moneter yang responsif dan dinamika pasar komoditas global yang menguntungkan, sehingga memberikan harapan bagi pemulihan ekonomi nasional yang lebih kokoh.