Media Kampung, Bojonegoro – Harga kedelai lokal dan impor di Bojonegoro mengalami kenaikan tajam mencapai kisaran Rp17.500 per kilogram. Kenaikan ini menjadi tantangan serius bagi perajin tahu dan tempe yang mengandalkan kedelai sebagai bahan baku utama produksi mereka.

Kenaikan Harga Kedelai di Pasar Tradisional

Berdasarkan data dari pasar tradisional seperti Pasar Banjarejo dan Pasar Pariwisata serta Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Bojonegoro, harga kedelai lokal naik sekitar 17,74 persen menjadi Rp17.583 per kg dari Rp14.463 sebelumnya. Sementara kedelai impor meningkat lebih tajam sekitar 23,01 persen menjadi Rp17.833 per kg dari Rp13.730.

Pedagang di pasar tradisional juga mengonfirmasi kenaikan harga ini. Nur, pedagang di Pasar Penampungan Sementara, menyatakan bahwa harga kedelai lokal maupun impor terus mengalami peningkatan yang mempengaruhi biaya bahan baku bagi pelaku usaha.

Faktor Kenaikan dan Kondisi Panen

Kenaikan harga kedelai terjadi meskipun sebagian wilayah Bojonegoro tengah memasuki masa panen komoditas kedelai yang ditanam petani sejak pertengahan tahun. Pada musim kemarau, kedelai menjadi pilihan utama petani karena permintaan pasar yang besar, khususnya untuk industri tahu dan tempe.

Masa panen diperkirakan berlangsung sejak akhir Agustus hingga September 2026, namun harga kedelai tidak menurun seperti biasanya, melainkan tetap pada level tinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dampak pada Perajin Tahu dan Tempe

Udin, seorang perajin tahu di Kelurahan Ledokkulon, mengungkapkan bahwa kenaikan harga kedelai kali ini sangat terasa dan menjadi beban tambahan dalam produksi. Meskipun demikian, produksi tetap dijalankan karena tahu dan tempe merupakan makanan pokok yang banyak dikonsumsi masyarakat.

Perajin mempertimbangkan kemungkinan penyesuaian harga produk untuk mengimbangi kenaikan biaya bahan baku, namun tetap memperhatikan daya beli konsumen agar produk tetap terjangkau.

Harga Produk Tahu dan Tempe di Konsumen

Harga tahu dan tempe di tingkat konsumen di Bojonegoro kini cukup bervariasi, tergantung ukuran dan jenis produk. Tahu dijual mulai Rp1.000 hingga Rp5.000 per potong, sedangkan tempe juga berkisar antara Rp1.000 hingga Rp5.000 per potong atau ukuran panjang.

Perkembangan Harga dan Prospek Produksi

Jika harga kedelai bertahan di level tinggi, perajin tahu dan tempe harus mencari strategi agar produksi tetap berjalan tanpa membebani konsumen secara berlebihan. Fluktuasi harga kedelai di masa panen selanjutnya akan menjadi indikator penting bagi biaya produksi dan kestabilan usaha perajin di daerah tersebut.

Kondisi ini juga menjadi perhatian bagi petani dan pelaku usaha, mengingat kedelai merupakan komoditas strategis yang memiliki peran penting dalam perekonomian lokal Bojonegoro.