Media Kampung, Alicante – Sejumlah korban bencana dana yang terjadi pada 29 Oktober 2024 menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor pemerintah Valencia yang berlokasi di Alicante. Aksi ini bertujuan untuk menuntut keadilan terkait penanganan bencana yang mengakibatkan 232 korban jiwa serta mengkritik ketidakjelasan tanggung jawab pemerintah, khususnya mantan Presiden Generalitat Valenciana, Carlos Mazón.
Demonstrasi yang diikuti oleh lebih dari 200 organisasi sosial, serikat pekerja, dan komunitas korban tersebut menyoroti berbagai masalah dalam pengelolaan krisis, mulai dari keterlambatan aktivasi sistem peringatan dini ES-Alert hingga masih adanya korban yang belum ditemukan hingga kini. Peserta aksi juga menyampaikan rasa kecewa terhadap status aforamiento yang dimiliki oleh Carlos Mazón, yang dinilai menghalangi proses hukum dan keadilan.
Dalam pernyataan yang disampaikan Elisabeth González, Wakil Presiden Asosiasi Korban dan Terdampak Dana Valencia, ditekankan bahwa perjuangan untuk menuntut pertanggungjawaban tidak akan berhenti hingga keadilan ditegakkan. Mereka juga menuntut peningkatan langkah pencegahan agar wilayah yang rawan bencana dapat lebih siap menghadapi kejadian serupa di masa depan.
Selain menuntut keadilan, aksi tersebut juga menunjukkan solidaritas kepada korban bencana lain dan masyarakat yang mengalami kesulitan sosial, termasuk menyebut kasus seorang ibu berusia 87 tahun yang mengalami penggusuran di Madrid. Unjuk rasa berlangsung dengan suasana damai, dilengkapi dengan pertunjukan alat musik tradisional dolçaina dan tabal.
Kasus dana yang melanda Valencia mengingatkan kembali pentingnya pengelolaan bencana yang transparan dan bertanggung jawab. Kritik terhadap penanganan dan perlambatan proses hukum menjadi sorotan utama yang diangkat dalam aksi ini, yang sekaligus memperingati hampir dua tahun sejak bencana itu terjadi.
Perjuangan para korban dan masyarakat sipil ini menjadi pengingat bahwa keadilan harus ditegakkan tanpa pengecualian dan pemerintah harus lebih proaktif dalam melindungi warganya dari risiko bencana alam yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.














Tinggalkan Balasan