Media Kampung – Kecerdasan buatan (AI) semakin menunjukkan peran pentingnya dalam berbagai sektor mulai dari manufaktur, kota pintar, hingga keamanan siber dan pertanian. Namun, nilai nyata AI hanya bisa diraih ketika teknologi ini dapat diadaptasi dan dipercaya oleh pengguna dalam konteks lokal dan aktivitas sehari-hari. Hal ini terutama relevan di kawasan Asia Tenggara yang kaya akan keberagaman bahasa dan budaya.

Di China-ASEAN Expo ke-23 di Nanning, berbagai aplikasi AI dipamerkan, mulai dari layanan medis hingga pencocokan bisnis lintas batas. Namun, tantangan besar muncul ketika teknologi ini harus digunakan oleh pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) di wilayah yang memiliki lebih dari 1.200 bahasa berbeda. AI penerjemah, misalnya, harus mampu menghadirkan akurasi tinggi untuk dokumen kontrak dan kepatuhan, bukan hanya membantu komunikasi awal.

Baca juga:

Pengembangan infrastruktur bahasa yang mendukung berbagai bahasa lokal sangat penting, termasuk korpora perdagangan multibahasa dan dataset layanan pariwisata. Upaya terkini dalam model bahasa di Asia Tenggara menunjukkan bahwa masalah ini dapat diatasi dengan pelatihan dan penyesuaian yang tepat.

Selain itu, adopsi AI oleh UMKM di ASEAN masih menghadapi kendala seperti tata kelola data, akses ke produk dan layanan AI, serta keterbatasan tenaga ahli. Padahal, UMKM menyumbang 97 persen dari total bisnis dan 85 persen lapangan kerja di kawasan ini. Oleh karena itu, inklusi AI tidak hanya soal ketersediaan alat canggih secara daring, tetapi juga aksesibilitas, peningkatan keterampilan, kesadaran, dan kepercayaan pengguna.

Baca juga:

Di sisi lain, perkembangan AI juga menjadi perhatian global terkait persaingan teknologi dan keamanan nasional. Misalnya, di Amerika Serikat, Senator Mike Rounds menekankan pentingnya mengungguli China dalam pengembangan AI demi kepemimpinan global dan keamanan.

Berbagai diskusi juga muncul mengenai istilah yang tepat untuk teknologi ini. Contohnya, mantan Presiden Donald Trump mengusulkan nama baru seperti “Superior Intelligence” dan “Extreme Intelligence” untuk menggantikan istilah “Artificial Intelligence,” yang dianggap kurang tepat oleh sebagian masyarakat.

Baca juga:

Perkembangan AI yang pesat juga memicu pertanyaan dan perhatian di berbagai sektor, termasuk pendidikan dan keamanan. Di New York, misalnya, Dewan Kota sedang mengevaluasi dampak AI terhadap masyarakat serta meninjau kebijakan terkait keselamatan sekolah dan perubahan sistem ujian.

Secara keseluruhan, AI menawarkan potensi besar untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup jika dikembangkan dan diimplementasikan dengan memperhatikan konteks lokal, bahasa, dan kebutuhan pengguna. Memahami tantangan dan peluang ini menjadi kunci agar teknologi AI dapat benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di Asia Tenggara dan dunia.