Media Kampung – Denyut jantung yang lebih lambat pada atlet merupakan fenomena umum yang dikenal sebagai Athlete’s Heart, yaitu adaptasi fisiologis jantung terhadap latihan fisik rutin, khususnya olahraga daya tahan. Meski denyut jantung istirahat orang dewasa normal berkisar 60-100 kali per menit, pada atlet kebugaran tinggi bisa mencapai sekitar 40 kali per menit tanpa menandakan gangguan kesehatan.

Apa Itu Athlete’s Heart?

Athlete’s Heart adalah serangkaian perubahan fisiologis yang terjadi pada jantung akibat latihan fisik jangka panjang. Adaptasi ini mencakup perubahan struktur, fungsi, dan sistem listrik jantung. Salah satu tanda yang paling mudah dikenali adalah sinus bradikardia, yaitu penurunan denyut jantung saat istirahat yang berkaitan dengan peningkatan aktivitas sistem saraf parasimpatik atau saraf vagus.

Baca juga:

Bagaimana Adaptasi Ini Terjadi?

Latihan daya tahan seperti lari, bersepeda, atau renang memaksa sistem kardiovaskular bekerja secara berulang dalam waktu lama. Seiring waktu, tubuh beradaptasi dengan meningkatkan efisiensi jantung dalam memompa darah sehingga denyut jantung istirahat menurun. Jantung mampu mengisi dan memompa darah lebih banyak pada setiap kontraksi, sehingga tidak perlu berdetak cepat saat tubuh dalam kondisi istirahat.

Perbedaan Adaptasi Berdasarkan Jenis Olahraga

Kajian terbaru yang diterbitkan di JACC Advances pada 21 Agustus 2026 menunjukkan bahwa adaptasi jantung berbeda tergantung jenis olahraga. Atlet endurance cenderung menunjukkan denyut jantung istirahat yang lebih rendah akibat beban volume latihan yang panjang dan peningkatan aktivitas saraf vagus. Sebaliknya, atlet olahraga kekuatan yang berlatih dengan beban tinggi menunjukkan pola adaptasi yang berbeda dan umumnya memiliki denyut jantung istirahat lebih tinggi dibanding atlet endurance. Olahraga yang menggabungkan unsur endurance dan kekuatan seperti sepak bola dan bola basket menunjukkan adaptasi di antara kedua pola tersebut.

Denyut Jantung Rendah Tidak Selalu Berarti Penyakit

Denyut jantung kurang dari 60 kali per menit secara medis disebut bradikardia. Namun, pada atlet yang aktif secara fisik, denyut jantung rendah sering kali merupakan tanda adaptasi kebugaran normal. American Heart Association dan Mayo Clinic menyatakan bahwa denyut jantung istirahat antara 40-60 kali per menit dapat ditemukan pada orang sehat, terutama atlet terlatih. Bahkan, pada atlet dengan kebugaran sangat baik, denyut jantung bisa mendekati 30-40 kali per menit saat istirahat.

Kapan Denyut Jantung Rendah Perlu Diwaspadai?

Meskipun denyut jantung rendah dapat menjadi tanda kebugaran, kondisi ini harus diwaspadai jika disertai gejala seperti pusing, kelelahan berlebihan, sesak napas, nyeri dada, atau pingsan. Denyut jantung sangat rendah (<30 kali per menit) juga perlu evaluasi medis lebih lanjut untuk menyingkirkan gangguan sistem konduksi atau kelainan struktural jantung. Pingsan saat berolahraga terutama jika diikuti gejala seperti jantung berdebar, nyeri dada, dan sesak napas harus segera diperiksa untuk menghindari risiko penyakit jantung.

Pentingnya Memahami Denyut Jantung Atlet

Atlet tidak perlu memaksakan diri untuk menurunkan denyut jantung istirahat secara ekstrem. Denyut jantung rendah adalah salah satu hasil adaptasi kebugaran, bukan satu-satunya indikator keberhasilan latihan. Pengukuran denyut jantung sebaiknya dilakukan secara konsisten, misalnya pada pagi hari setelah bangun tidur. Faktor lain seperti kualitas tidur, stres, suhu lingkungan, dan konsumsi kafein juga memengaruhi denyut jantung.

Kesimpulan

Athlete’s Heart adalah contoh adaptasi fisiologis yang memungkinkan jantung bekerja lebih efisien pada atlet terlatih. Denyut jantung istirahat yang lebih lambat bukan tanda kelemahan jantung, melainkan kemampuan tubuh menyesuaikan diri dengan beban latihan. Namun, pemeriksaan medis tetap diperlukan apabila ditemukan denyut jantung sangat rendah atau disertai gejala yang mengarah pada gangguan jantung.

Referensi utama: JACC Advances (21 Agustus 2026) dan Mayo Clinic (22 Oktober 2025).