Media Kampung, Jakarta – Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menghadiri peluncuran buku autobiografi Erros Djarot volume 2 dan 3 yang berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat, pada Minggu, 9 Agustus 2026. Acara ini menjadi momentum penting untuk menyampaikan pengalaman pribadi dan perspektif sejarah yang jarang terungkap.

Dalam kesempatan tersebut, Megawati tampil anggun mengenakan busana batik merah dan hitam, didampingi oleh sejumlah tokoh dan keluarga besar Soekarno, termasuk Puti Guntur Soekarno, Romy Soekarno, serta Ketua DPP PDI Perjuangan Bintang Puspayoga. Peluncuran autobiografi ini tidak hanya membahas perjalanan hidup dan karya Erros Djarot sebagai budayawan, tetapi juga mengusung pesan moral penting mengenai kejujuran dalam menyampaikan pengalaman dan sejarah.

Baca juga:

Pesan Kejujuran dalam Autobiografi

Acara peluncuran diisi juga dengan sesi bedah buku yang dipandu oleh wartawan senior Bambang Harymurti. Megawati dalam pidatonya menyatakan kedekatan personal dengan Erros Djarot sejak lama dan menyampaikan candaan mengenai karakter Erros yang menurutnya tidak banyak berubah. Ia juga mengakui bahwa dalam buku tersebut terdapat bagian yang benar dan ada pula yang menurutnya kurang tepat, menegaskan pentingnya sikap jujur terhadap sejarah dan pengalaman pribadi.

Erros Djarot sendiri menyatakan bahwa autobiografinya merupakan kesaksian atas perjalanan hidup dan pengalaman yang dialaminya. Ia terdorong menulis buku tersebut karena ingin meluruskan berbagai cerita yang dianggapnya tidak sesuai dengan kenyataan dan menyampaikan sisi sejarah bangsa yang belum banyak diketahui publik.

Baca juga:

Melengkapi Sejarah Indonesia yang Belum Banyak Terungkap

Erros menyoroti bahwa perjalanan bangsa Indonesia memiliki banyak aspek yang belum terungkap atau jarang dibicarakan secara terbuka. Ia menekankan pentingnya menyampaikan fakta-fakta yang selama ini tidak diungkapkan agar sejarah bangsa tidak disajikan sepihak oleh pihak tertentu.

Dalam pernyataannya, Erros mengaku biasanya memilih diam, namun kali ini ia merasa perlu berbicara agar pengalamannya tidak hilang dan dapat menjadi bahan dialog batin bagi pembaca. Kehadirannya serta dukungan dari berbagai tokoh dari latar belakang politik, budaya, seni, dan jurnalistik menegaskan nilai acara ini sebagai ruang refleksi sejarah dan pengalaman pribadi yang berharga.

Baca juga:

Acara Berbalut Seni dan Budaya

Selain peluncuran dan bedah buku, acara ini juga dimeriahkan dengan penampilan panggung hiburan yang melibatkan musisi dan penyanyi ternama Indonesia seperti Once Mekel, Fryda Lucyana, Balawan, Dira Sugandi, dan Sastrani. Komposer Anwar Fauzi dan Adi KLA dari KLA Project turut memeriahkan suasana, yang menunjukkan sinergi antara seni dan budaya dalam mendukung penyebaran cerita dan sejarah melalui karya tulis.

Peluncuran autobiografi Erros Djarot volume 2 dan 3 ini tidak hanya menjadi ajang peluncuran buku semata, melainkan juga menjadi momen penting bagi para tokoh dan masyarakat untuk bersama-sama mengapresiasi perjalanan sejarah dan budaya Indonesia yang kaya serta menginspirasi dialog terbuka mengenai masa lalu bangsa.