Media Kampung – Ekuador harus mengakhiri perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 dengan kekalahan 2-0 dari Meksiko pada babak 32 besar, Rabu (1/7/2026). Namun, sorotan justru tertuju pada kartu merah yang diterima bek Piero Hincapié di menit akhir pertandingan. Hincapié diusir keluar lapangan setelah kedapatan menutup mulut saat berbicara dengan penyerang Meksiko, Santiago Giménez, sebuah pelanggaran yang kini dikenal sebagai ‘Prestianni Law’.
Apa Itu ‘Prestianni Law’?
‘Prestianni Law’ adalah aturan baru yang diterapkan FIFA pada Piala Dunia 2026 untuk memberantas praktik pemain menutup mulut saat bertengkar secara verbal dengan lawan. Dinamai berdasarkan insiden yang melibatkan pemain sayap Benfica, Gianluca Prestianni, dan Vinícius Júnior dari Real Madrid di Liga Champions Eropa awal tahun ini, aturan ini memberi wewenang kepada wasit untuk langsung mengeluarkan kartu merah kepada pemain yang sengaja menutup mulut saat mengucapkan kata-kata kasar, diskriminatif, atau ofensif kepada lawan.
Aturan ini diusulkan oleh Presiden FIFA Gianni Infantino dan disetujui secara bulat oleh International Football Association Board (IFAB), badan pembuat hukum sepak bola yang terdiri dari FIFA dan empat asosiasi sepak bola Inggris. Meskipun tidak diwajibkan secara permanen dalam Laws of the Game, FIFA sebagai penyelenggara turnamen dapat memilih untuk menerapkan sanksi ini.
Kronologi Insiden Hincapié
Insiden terjadi pada menit ke-95 pertandingan Meksiko vs Ekuador. Hincapié terlibat pertengkaran dengan Santiago Giménez dan terlihat menutup mulutnya dengan tangan saat berbicara. Wasit Slavko Vinčić dari Slovenia, setelah berkonsultasi dengan Video Assistant Referee (VAR), langsung mengeluarkan kartu merah untuk Hincapié. Meskipun kartu merah tidak mengubah hasil pertandingan—Ekuador sudah tertinggal 2-0—insiden ini menjadi peringatan bagi semua pemain di turnamen.
Pertama Kali Diterapkan: Miguel Almirón
Hincapié bukanlah pemain pertama yang terkena ‘Prestianni Law’ di Piala Dunia 2026. Sebelumnya, gelandang Paraguay Miguel Almirón mendapat kartu merah langsung pada pertandingan fase grup melawan Turki setelah menutup mulut saat berkonfrontasi dengan bek Turki Mert Müldür. Meski Paraguay menang 1-0, Almirón harus menjalani skorsing satu pertandingan dan FIFA mengonfirmasi bahwa hukuman tersebut tidak bisa diajukan banding.
Dampak Aturan bagi Pemain
Seorang pemain yang mendapat kartu merah langsung diusir dari lapangan, memaksa timnya bermain dengan 10 orang untuk sisa pertandingan. Selain itu, pemain tersebut otomatis diskors untuk satu pertandingan berikutnya. FIFA berharap aturan ini meningkatkan transparansi saat konfrontasi dan membantu ofisial mengidentifikasi pelanggaran verbal yang mungkin disembunyikan pemain.
Bagi Hincapié, kartu merah ini tidak berdampak pada turnamen karena Ekuador sudah tersingkir, tetapi akan mempengaruhi ketersediaannya untuk pertandingan internasional berikutnya.
Reaksi dan Konteks Lain
Pertandingan Meksiko vs Ekuador sendiri sempat tertunda satu jam karena cuaca buruk. Meksiko akhirnya menang 2-0 melalui gol Julián Quiñones (22′) dan Raúl Jiménez (31′), sekaligus mengamankan tiket ke babak 16 besar untuk pertama kalinya dalam 40 tahun sejak edisi 1986. Kemenangan ini juga menandai rekor empat pertandingan tanpa kebobolan secara beruntun bagi Meksiko.
Dengan diterapkannya ‘Prestianni Law’, FIFA menunjukkan keseriusannya dalam memberantas perilaku tidak sportif di lapangan. Pemain-pemain di turnamen ini harus lebih berhati-hati: menutup mulut saat bertengkar bisa berakibat kartu merah dan skorsing.
Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.





Tinggalkan Balasan