Media Kampung – 31 Maret 2026 | Fenomena anak generasi Alpha yang menyapa orang tua dengan sebutan “aku‑kamu” kini menjadi topik perbincangan di kalangan orang tua dan pendidik di Indonesia.

Meskipun terdengar kurang sopan bagi sebagian orang, perilaku tersebut dipandang wajar oleh sebagian lainnya sebagai bagian dari perkembangan bahasa pada anak usia sekolah.

Vera Itabiliana, psikolog klinis anak dan remaja, menjelaskan bahwa penggunaan kata “aku” menandakan proses pembentukan identitas diri yang sedang terjadi pada anak.

Lingkungan sosial juga memberikan kontribusi signifikan; televisi, media daring, serta pola komunikasi dalam keluarga dapat memperkuat kebiasaan tersebut.

Anak yang sering menonton konten dimana karakter sebaya berbicara santai cenderung meniru gaya bahasa yang sama ketika berinteraksi dengan orang tua.

Namun, psikolog menegaskan bahwa tidak semua penggunaan “aku‑kamu” bersifat negatif, karena rasa hormat masih dapat ditunjukkan lewat intonasi, ekspresi wajah, dan sikap mendengarkan.

Masalah muncul ketika bahasa itu dipakai dalam situasi formal atau ketika batas antara peran anak dan orang dewasa menjadi kabur, yang dapat menimbulkan kebingungan sosial.

Orang tua disarankan untuk memberikan arahan lembut, menjelaskan konteks penggunaan bahasa yang tepat, dan menjadi contoh komunikasi yang sesuai.

Langkah konkret meliputi memvalidasi kebiasaan anak terlebih dahulu, mengajukan contoh kalimat yang lebih sopan, serta konsistensi dalam menegakkan aturan bahasa di rumah.

Konsistensi ini penting agar anak memahami bahwa bahasa memiliki fungsi sosial yang berbeda tergantung pada situasi dan lawan bicara.

Selain itu, dialog terbuka antara orang tua dan anak dapat memperkuat pemahaman bersama tentang kapan “aku‑kamu” dapat diterima dan kapan harus diganti dengan “ayah/ibu” atau “bapak/ibu”.

Penelitian terbaru dalam bidang psikolinguistik menunjukkan bahwa fleksibilitas bahasa pada anak usia dini berhubungan dengan kemampuan kognitif dan empati yang lebih tinggi.

Oleh karena itu, mengajarkan aturan bahasa tidak hanya soal kesopanan, melainkan juga mendukung perkembangan sosial‑emosional yang seimbang.

Dengan pendekatan yang sabar dan konsisten, orang tua dapat menuntun generasi Alpha untuk menggunakan bahasa secara tepat tanpa menghilangkan rasa kebebasan berekspresi.

Situasi ini mencerminkan dinamika perubahan budaya bahasa Indonesia di era digital, di mana generasi muda terus menyesuaikan cara berkomunikasi dengan realitas baru.

Pendidikan bahasa di sekolah dan program literasi keluarga diharapkan dapat melengkapi upaya tersebut, sehingga anak dapat menginternalisasi norma sopan santun sekaligus mempertahankan identitas pribadi.

Secara keseluruhan, fenomena “aku‑kamu” bukanlah ancaman, melainkan tantangan bagi orang tua untuk menyeimbangkan kebebasan ekspresi anak dengan nilai‑nilai kesopanan tradisional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.